Bab 147: Jeratan!
"Yu Chi..." Ying Zisha berseru pelan.
Yu Chi tidak tidur terlalu nyenyak. Ia langsung membuka sepasang mata yang memancarkan cahaya terang itu, membuat seolah-olah seluruh ruangan mendadak menjadi benderang dan penuh dengan semangat hidup.
Yu Chi menyerahkan sup pereda mabuk kepada Ying Zisha. Setelah menerimanya, Ying Zisha mendongak dan meminumnya hingga tandas. Begitu meletakkan mangkuk, ia menepuk ruang kosong di sampingnya. "Kenapa duduk di situ? Kemari."
Merasakan suasana hati Ying Zisha yang sepertinya sedang kurang baik, Yu Chi tidak berpikir panjang dan langsung naik ke atas ranjang, duduk di tempat yang baru saja ditepuk oleh Ying Zisha.
Ying Zisha bersandar di bahu Yu Chi, lalu berkata dengan nada antara menangis dan tertawa, "Aku tidak menyangka kau masih akan kembali."
Yu Chi menampakkan ekspresi bingung. Kenapa ia tidak mungkin kembali?
Membaca kebingungan di wajah Yu Chi, Ying Zisha tersenyum. "Bukannya begitu. Maksudku, aku tidak menyangka dia masih akan membiarkanmu kembali."
Yu Chi mengerjap, lalu mengulurkan kepalan tangannya yang kokoh seraya tersenyum tipis.
Ying Zisha sempat tertegun sejenak. Setelah sadar, ia tersenyum masam. "Benar juga. Aku tahu dia sudah babak belur kaukuliti beberapa waktu lalu. Hebat sekali, kau langsung melampiaskan semua kekesalan kami. Dulu, saat aku memukulnya, aku justru terluka lebih parah. Perlakuanmu benar-benar istimewa, bahkan dia sama sekali tidak berani melawan."
Mendengar ucapan Ying Zisha itu, Yu Chi mendadak teringat sesuatu. Sejak pertama kali bertemu Zhan Yu hingga sekarang, Zhan Yu memang tidak pernah melawan balik. Jika dikatakan Zhan Yu tidak mampu mengalahkannya, Yu Chi sama sekali tidak mempercayainya. Pria itu... mungkinkah merasa jijik untuk membalas?
Atau...
Benar, pria itu mengatakan bahwa ia mencintainya.
Hati Yu Chi kembali merasakan nyeri yang menyesakkan. Semua ini salah Zhan Yu karena tiba-tiba melontarkan kalimat, "Aku mencintaimu."
"Aku tahu, cepat atau lambat kau tetap akan pergi. Sekalipun aku tidak membiarkanmu pergi, kau akan tetap melangkah," bisik Ying Zisha sambil menyentuh hidung Yu Chi pelan, lalu kembali mengulas senyum anggun yang menyerupai topeng.
Meski tidak sepenuhnya memahami arti kata-kata Ying Zisha, Yu Chi tetap bisa merasakan kesepian yang menyelimuti pria itu saat ini.
"Apakah kau ingin aku pergi?" tulis Yu Chi di atas selimut.
Ying Zisha tidak kuasa menahan tawa. "Pada saat itu nanti, masalahnya bukan lagi tentang aku ingin atau bersedia melepaskanmu atau tidak. Tapi, kumohon jangan pergi secepat ini, demi kebaikan masa lalu saat aku menyelamatkanmu dan menemanimu selama lebih dari setahun."
Yu Chi mengangguk paham tidak paham. "Aku harus pergi bekerja."
"Aku akan mengantarmu." Ying Zisha hendak bangkit, namun kembali ditekan oleh Yu Chi. "Tidurlah, kau tidur begitu larut semalam. Aku bisa pergi sendiri."
"Tidak apa-apa, tidur setelah mabuk semalam rasanya cukup baik. Waktunya masih pagi, tunggu aku sebentar, aku akan mandi dulu." Serta-merta, Ying Zisha mencuri ciuman dari pipi Yu Chi seperti biasa, lalu berucap dengan nada lembut namun penuh kuasa.
Yu Chi tidak bisa membantah dan hanya bisa duduk menunggu di atas ranjang.
Setelah selesai mandi, Ying Zisha mengemudikan mobilnya untuk mengantar Yu Chi ke dojo, lalu dengan santai ikut melangkah masuk ke dalam.
***
Zhan Yu sudah tiba sejak pagi buta. Melihat Yu Chi diantar oleh Ying Zisha, ia harus menahan diri setengah mati agar tidak maju dan menyelesaikan masalah menggunakan kepalan tangan.
Kehadiran Ying Zisha memang sengaja untuk memprovokasi Zhan Yu. Lagi pula, belakangan ia sedang tidak memiliki kesibukan apa pun. Datang kemari untuk menggoda Zhan Yu sekalian melunasi utang piutang atas penghinaan Zhan Yu terhadap Ying Wei di pesta ulang tahun wanita itu. Sekaligus agar Zhan Yu memahami betapa besar kesalahan yang telah ia perbuat karena gagal menghargai Yu Chi di masa lalu.
Ying Zisha duduk di sisi ruangan untuk mengawasi kelas Yu Chi. Benar saja, selama sesi latihan tanding, Zhan Yu hampir sama sekali tidak memberikan perlawanan. Namun, selain saat melawan Yu Chi, murid-murid yang lain dihajar habis-habisan oleh Zhan Yu. Barangkali pria itu sedang melampiaskan seluruh kekesalannya kepada murid-murid Yu Chi.
Melihat murid-murid malang yang bahkan tidak sebanding dengan satu jari Zhan Yu itu, Zhan Yu mengangkat alisnya ke arah Yu Chi, namun langsung dibalas dengan jelingan tajam penuh amarah. Ying Zisha tertawa terbahak-bahak tanpa rasa bersalah.
Sejak hari itu, Ying Zisha dan Zhan Yu benar-benar menjadi musuh bebuyutan. Yang satu bertanggung jawab sebagai sopir pribadi yang mengantar jemput, sementara yang satu lagi bertindak sebagai "murid teladan" di hadapan Yu Chi. Hanya saja, ketika Yu Chi memalingkan wajah atau lengah, tatapan mata kedua saudara itu diwarnai percikan api permusuhan yang membara.
Kadang kala, saat Ying Zisha sedang tidak sempat mengantar jemput, Zhan Yu dengan gigih akan terus menempel pada Yu Chi demi bisa mengantarnya pulang. Usaha pantang menyerah itu ternyata membuahkan hasil. Setidaknya, Yu Chi kini tidak lagi menolak sentuhan pria itu, bahkan mulai abai terhadap tindakan-tindakan kecil penuh modus yang sengaja dilakukan Zhan Yu.
Dengan sedikit menghibur diri di tengah penderitaan, Zhan Yu menyadari bahwa amnesia yang dialami Yu Chi ternyata mendatangkan hikmah tersendiri. Pria itu tidak lagi hidup dalam beban berat seperti dulu, yang selalu memikirkan cara untuk melindunginya. Sebaliknya, Yu Chi kini menjalani kehidupan yang berbeda dari masa lalu. Meski tidak lagi menjadi instruktur pribadinya seorang, Yu Chi kini adalah pelatih yang dicintai oleh banyak anak didik.
Selain itu, setelah kehilangan ingatan, kepribadian Yu Chi menjadi jauh lebih polos dan bertindak murni mengikuti kata hati. Jika mengabaikan kenyataan bahwa Yu Chi tidak lagi menganggapnya sebagai sosok paling penting, kondisi amnesia ini justru membuat interaksi mereka saat ini terasa aneh sekaligus menyenangkan—jika saja mereka bisa mengabaikan keberadaan Ying Zisha yang menempel bagaikan lintah.
Ying Wei terdiam cukup lama setelah mengetahui bahwa Yu Chi dulunya adalah instruktur Zhan Yu dan hubungan masa lalu mereka begitu ambigu. Ia tadinya mengira bahwa hanya Ying Zisha seorang yang menyukai sesama jenis, tak disangka putra bungsunya ternyata juga memiliki ketertarikan yang sama. Perasaan Ying Wei mendadak menjadi sangat rumit dalam sekejap.
Setelah beberapa hari menenangkan diri, Ying Wei memanggil Ying Zisha untuk datang menemuinya, berniat membujuk putranya itu agar melepaskan Yu Chi. Ia tidak ingin melihat Zhan Yu dan Ying Zisha saling bermusuhan demi seorang pria. Terlebih lagi, ia sangat mengenal tabiat Ying Zisha. Keengganan Ying Zisha untuk melepaskan Yu Chi saat ini kemungkinan besar bukan karena cinta, melainkan semata-mata karena rasa tidak rela. Sementara Zhan Yu, anak itu pasti tidak akan mau mengalah.
Jika Zhan Yu tidak mencintai Yu Chi, ia tidak akan merasa begitu tersiksa ketika mengira Yu Chi telah tiada, serta menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari seseorang yang diyakini semua orang sudah tewas.
Ying Wei telah merangk rencana dengan begitu indah. Namun siapa sangka, usai mendengarkan penjelasan dan analisis dari ibunya, Ying Zisha justru menolak campur tangan tersebut dengan dingin, "Ini adalah urusan di antara kami berdua, Ibu tidak perlu ikut campur."
Ying Zisha senantiasa menjadi pria yang memiliki pendirian kuat. Begitu ia berkata demikian, Ying Wei pun tidak berdaya lagi.
Sepeninggal Ying Zisha, Ying Wei merenung ke sana ke mari dan tetap merasa cemas. Namun ia tidak bisa mendatangi Zhan Lin, sebab Zhan Lin yang sudah memihak Zhan Yu pasti akan membela putra kesayangannya itu. Ying Wei khawatir kebersikerasaan Ying Zisha pada akhirnya justru akan menghancurkan keduanya. Terlebih lagi, jika Zhan Lin sampai turun tangan demi Zhan Yu, hal itu dikhawatirkan akan sangat melukai hati Ying Zisha.
Setelah menimbang-nimbang dari berbagai sisi, Ying Wei merasa dirinya tidak boleh tinggal diam. Mengetahui betapa khawatirnya Ying Wei, sang kepala pelayan lantas memberikan sebuah saran, "Bukankah Tuan Muda dulu pernah membuat keributan besar demi seorang 'mainan'? Beliau bahkan sempat mengeluarkan titah di dalam keluarga bahwa tidak seorang pun boleh menyentuh 'mainan' itu. Jika Tuan Muda menolak melepaskan, mengapa kita tidak mulai dari 'mainan' itu dan Yu Chi?"
Ying Wei merenung sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Hanya itu satu-satunya cara. Pergilah bantu aku membuat janji dengan Tong Mo. Jangan beritahu dia bahwa aku adalah ibu Zisha."
"Baik, Nyonya." Kepala pelayan itu mundur dan segera mengurus masalah tersebut dengan kecepatan penuh.
Keesokan harinya pada siang hari, baru saja Tong Mo kembali ke kantor dan melepaskan jasnya, sang asisten sudah melapor bahwa ada seorang nyonya berpengharu wibawa sedang menunggunya di ruang rapat.
Tong Mo merasa sedikit heran. Siapa yang datang mencarinya? Jika hanya tamu biasa, mestinya tidak perlu dirinya yang turun tangan langsung; para asisten tentu bisa mengatasinya. Mau tidak mau, Tong Mo mengenakan kembali jasnya dan bertanya, "Apakah beliau secara khusus menyebut nama saya?"
"Ya. Beliau bilang harus bertemu dengan Anda dan sudah menunggu di ruang rapat selama sepuluh menit," jawab sang asisten.
Tong Mo mengangguk, lalu memasukkan berkas kontrak di tangannya ke dalam laci meja. "Baiklah, saya akan ke sana sekarang."
Dalam hati, ia bertanya-tanya siapa sebenarnya tamu tersebut. Mungkinkah wanita itu?
Tidak. Wanita itu tidak pernah sekalipun datang menengoknya. Jangankan datang, hidup atau matinya Tong Mo pun tampaknya tidak pernah dipedulikan oleh wanita tersebut. Tong Mo segera menepis kemungkinan bahwa orang yang mencarinya adalah ibu kandungnya sendiri.
Di dalam ruang rapat, Ying Wei duduk dengan anggun di kursi yang paling jauh dari pintu. Begitu Tong Mo mendorong pintu terbuka, ia langsung mendapati Ying Wei sedang duduk tegak menantinya.
Tong Mo memutar otaknya beberapa saat, barulah ia teringat bahwa nyonya di hadapannya ini tampaknya adalah ibu dari Ying Zisha. Ia pernah melihat wanita itu sekilas dari kejauhan di pesta ulang tahun, meski wanita itu mungkin tidak menyadarinya.
"Halo, Nyonya. Ada perlu apa Anda mencari saya?" Tong Mo memilih kursi dengan jarak yang tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh, lalu bertanya dengan sopan.
Ying Wei mengamati penampilan Tong Mo. Jika mengabaikan fakta bahwa Tong Mo juga seorang penyuka sesama jenis, secara pribadi Ying Wei sebenarnya cukup menghargai pemuda itu: muda, berbakat, dan berpenampilan menarik. Tong Mo dan Yu Chi sama-sama memiliki kelebihan masing-masing dan tidak ada yang kalah unggul.
"Aku adalah ibu Ying Zisha. Kedatanganku kemari untuk membicarakan tentang Zisha denganmu," ucap Ying Wei langsung pada intinya.
Ekspresi wajah Tong Mo sama sekali tidak berubah, namun tangannya di bawah meja mengepal erat. Sambil menimbang-nimbang, ia berujar, "Hubungan saya dan dia tidak seperti yang Anda bayangkan. Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan..."
"Bukan hal itu yang kumaksud. Aku tahu Zisha dulu hanya memperlakukanmu sebagai 'mainan'..."
Begitu kata 'mainan' itu terucap, air muka Tong Mo langsung berubah drastis. Selama ini ia mengira rahasia status 'mainan' itu hanya diketahui oleh dirinya dan Ying Zisha. Tak disangka, bahkan ibu Ying Zisha pun mengetahuinya. Apakah Ying Zisha sengaja menyebarkan hal ini hingga diketahui semua orang? Menempatkannya sebagai apa pria itu? Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Ying Zisha tega mencemarkan namanya sedemikian rupa?
"Maaf, saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Ying Zisha. Pekerjaan saya sangat sibuk, jadi saya tidak bisa menemani Anda lebih lama." Tong Mo bangkit berdiri dengan wajah kelam.
Menyadari dirinya salah ucap, Ying Wei buru-buru meminta maaf, "Maafkan aku, bukan itu maksudku. Jangan pergi dulu. Aku adalah ibu Zisha, aku bisa melihat bahwa Zisha sebenarnya memiliki perasaan padamu."
*Jangan... jangan dengarkan dia. Pergi saja.*
Meski hati Tong Mo terus memperingatkannya demikian, tubuhnya justru kaku seketika dan tanpa sadar kembali terduduk di kursi semula. Barangkali karena perasaannya pada Ying Zisha belum sepenuhnya mati dan luka di hatinya belum kering, begitu mendengar secercah kemungkinan sekecil apa pun, ia kembali membiarkan dirinya menjadi orang bodoh yang penuh harap. Bahkan Tong Mo sendiri begitu merendahkan sekaligus membenci dirinya yang seperti ini.
"Anda sendiri tadi yang bilang, dia hanya memperlakukan saya sebagai 'mainan', dari mana datangnya perasaan?" cibir Tong Mo dengan nada mencemooh diri sendiri.
"Tidak," Ying Wei menggelengkan kepala. "Aku sangat mengenalnya. Dia hanya keras kepala, bukan berarti sama sekali tidak memiliki perasaan kepadamu. Saat pertama kali mengambil alih urusan keluarga, dia bahkan mengeluarkan titah tegas dalam rapat keluarga agar tidak seorang pun berani menyentuhmu. Siapa pun yang berani mengusikmu, hukumannya satu kata: mati. Waktu itu kami sudah sering menegurnya karena hubungannya denganmu, namun ia sama sekali tidak pernah berniat berpisah darimu. Perpisahan kali ini pun, bukankah bukan dia yang mengajukannya lebih dulu?" tanya Ying Wei dengan nada menyelidik.