Bab 64 Aku Tidak Peduli
"Siapa bilang keponakan kecilku tidak punya siapa-siapa di sini!"
Suara ini tiba-tiba terdengar dari tidak jauh di belakang An Wenya dan Li Xiuhua, membuat Li Xiuhua terperanjat dan langsung berdiri dari tanah.
Namun, An Wenya seolah sudah tahu sejak lama kalau ada orang di belakangnya. Ia perlahan berbalik, menatap beberapa orang yang berdiri di jalan setapak di atas bukit tidak jauh dari sana, lalu tersenyum tipis.
"Paman Qin, Paman Lin, Paman Kepala Desa!"
An Wenya tersenyum lebar, bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang bajunya, lalu menyambut mereka dengan senyuman.
Orang-orang yang datang ini tidak lain adalah pelindung yang diatur oleh An Dewen untuk putrinya, yaitu Qin Jianshe yang menjabat sebagai kepala regu di biro keamanan umum kabupaten.
Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan aura pria sejati. Pria berambut cepak hitam legam itu memiliki kulit sawo matang dan garis wajah yang tegas, usianya terlihat sekitar dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun. Tanpa perlu bertanya lagi, sudah pasti pria ini adalah Lin Shouxin, sahabat karib sekaligus saudara seperjuangan Qin Jianshe yang diceritakan bekerja sebagai kepala regu di departemen milisi kabupaten.
Oleh karena itu, saat An Wenya memanggil Qin Jianshe, ia tidak bertanya banyak dan langsung menyapa pria di sampingnya itu seolah-olah sudah akrab. Orang yang tidak tahu kebenarannya tidak akan pernah menyangka bahwa ini sebenarnya adalah pertemuan pertama mereka, sama sekali bukan hubungan paman dan keponakan yang sudah lama terjalin seperti anggapan orang-orang.
Qin Jianshe dan Lin Shouxin tidak perlu repot memperkenalkan identitas mereka kepada orang lain. Yang satu mengenakan seragam polisi, yang satu mengenakan seragam milisi, di belakang mereka juga mengikuti dua pemuda berusia awal dua puluhan yang mengenakan seragam milisi yang sama. Ditambah lagi, kepala desa dan sekretaris desa sendiri yang mendampingi mereka dengan hormat.
Bahkan tanpa melihat semua itu, Qin Jianshe dan Lin Shouxin yang sengaja datang untuk memberikan dukungan pada An Wenya menampilkan sikap pejabat yang arogan. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka bukanlah pegawai rendahan biasa.
Dalam sekejap, bukan hanya Li Xiuhua, bahkan orang-orang lain yang menyadari keributan di sana dan menghentikan pekerjaan mereka pun ikut terpaku di tempat karena terkejut.
Duh, sebenarnya apa latar belakang pemuda terpelajar An yang datang dari kota ini? Bukankah dia hanya punya ayah seorang kepala pabrik di kota besar? Kenapa dia juga kenal dengan para pejabat di sini?
"Kakak, barusan aku dengar kamu bilang keponakan kecilku tidak punya siapa-siapa di sini?" Lin Shouxin berjalan menghampiri An Wenya dengan gaya setengah preman, sudut bibirnya terangkat dengan senyum sinis yang membuat kedua kaki Li Xiuhua gemetar ketakutan.
Jika ditanya, orang pedesaan paling takut pada siapa? Jawabannya adalah petugas keamanan umum, anggota milisi, dan para pejabat—tidak ada duanya!
Sekarang lengkap sudah. Ketiga jenis orang yang paling ditakuti itu semuanya berkumpul pada kerabat pemuda terpelajar An yang tiba-tiba muncul ini.
"A-a-aku..."
"Kamu, kamu, kamu apa, hah? Istri Wang Kedua, omong kosong apa yang baru saja kamu ucapkan? Kamu pikir kami semua tidak dengar, ya!" Kepala desa menunjuk ke arah Li Xiuhua dengan wajah murka dan langsung memarahinya habis-habisan.
"Kukatakan padamu, istri Wang Kedua, memangnya si pemuda Chuanxian itu pernah berbuat salah atau menyinggungmu? Kenapa kamu bisa-bisanya bicara begitu di belakangnya, bahkan mengatakannya terang-terangan di depan Pemuda Terpelajar An?
Kamu bahkan mau menjodohkan adik iparmu dengan Pemuda Terpelajar An? Sudahlah, hentikan omong kosongmu itu! Adik iparmu itu bahkan tidak mau memungut botol kecap yang jatuh, tapi kamu masih punya muka untuk memujinya setinggi langit seolah-olah dia itu pria sempurna!"
"Kepala Desa, apa maksudmu bicara begitu? Ada apa dengan anak bungsuku? Memangnya dia kurang di mana!" Tiba-tiba seorang paruh baya perempuan berlari keluar dari balik sebuah pohon besar di dekat situ. Dengan wajah tidak puas, ia berdiri di samping Li Xiuhua dan menatap kepala desa dengan penuh kemarahan.
Pada saat itu juga, Qin Jianshe langsung menarik An Wenya ke sisinya agar bisa segera melindunginya di belakang jika terjadi sesuatu.
Kemudian, ketiga paman dan keponakan itu berdiri diam di samping kepala desa yang sedang meluapkan amarahnya, bertindak persis seperti penonton yang sedang menikmati pertunjukan tanpa ada sangkut pautnya dengan masalah tersebut.
Kepala desa mengerutkan keningnya, menatap dengan ekspresi heran ke arah ibu Wang yang tiba-toa menerobos keluar dari balik pohon besar. "Keluarga Tua Wang, apa yang kamu lakukan bersembunyi di balik pohon besar itu?"
Sambil berkata demikian, kepala desa bahkan menoleh untuk melirik pohon besar tempat ibu Wang bersembunyi tadi.
Pohon itu sangat besar, batangnya harus dipeluk oleh tiga atau empat orang dewasa sekaligus. Dahulu, karena jajaran pohon itu sudah sangat tua, tinggi, dan besar, saat lahan pertanian ini dibuka, hutan pohon tua itu dibiarkan tetap ada. Bersembunyi di balik pohon-pohon besar itu memang sangat sulit untuk ketahuan.
Mampu menjadi kepala desa selama bertahun-tahun di sini, serta membangun Desa Jinyang dari sebuah desa kecil yang terbelakang menjadi desa makmur yang terkenal di puluhan desa sekitar, membuktikan bahwa kepala desa ini sama sekali bukanlah orang bodoh. Sebaliknya, ia adalah orang yang sangat cerdas dan berpikiran tajam.
Setelah melirik beberapa kali, lalu menghubungkannya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya dari Li Xiuhua saat mereka baru naik dari bawah bukit, serta watak dan perilaku keluarga Wang ini, tidak ada lagi yang perlu diragukan.
Terlebih lagi, kepala desa sama sekali bukan orang berhati lembut, terutama lidahnya yang sangat tajam saat memarahi orang. Jika tidak begitu, mustahil ia bisa menundukkan orang-orang pembuat masalah yang terkenal di desa dari generasi ke generasi.
"Jadi kalian berdua, mertua dan menantu, sudah bersekongkol untuk menjebak Pemuda Terpelajar An di sini, ya? Kukatakan padamu, keluarga Wang, bisakah kalian sedikit tahu malu dan berhenti melakukan hal-hal menjijikkan seperti itu?"
"Kepala Desa, apa maksudmu bicara begitu? Bagaimana bisa kami menjebak Pemuda Terpelajar An? Kalau bicara itu harus pakai hati nurani! Aku tadi cuma pergi ke sana untuk buang air kecil dan kebetulan baru kembali. Aku sama sekali tidak tahu kalau menantuku dan Pemuda Terpelajar An ada di sini."
Ibu Wang memutar bola matanya, bersikap masa bodoh seperti banteng mati yang tidak takut air mendidih, menolak untuk mengakuinya. Pandangannya sempat menyapu ke arah Pemuda Terpelajar An yang berdiri di sana, lalu tanpa sadar berhenti sejenak untuk mengamatinya dari atas ke bawah.
"Betul kata mertuaku, Kepala Desa, kamu tidak boleh sembarangan menuduh. Aku cuma melihat Pemuda Terpelajar An duduk sendirian dan tampak bosan, jadi aku berinisiatif menghampirinya untuk mengobrol. Lagipula, tidak ada yang salah dengan ucapannya, kenapa kamu malah memarahi kami? Sekalipun kamu memihak keluarga besar Huo, kalau bicara tetap harus pakai nurani dong."
Li Xiuhua sedikit menundukkan dagunya, memajukan bibirnya sambil memutar bola matanya. Ia sama sekali tidak mengakui perkataan kepala desa, bahkan menunjukkan sikap seolah-olah "aku tidak salah", sama sekali tidak merasa bersalah telah menggosipkan orang di belakang mereka.
"Pakai nurani? Kalian berdua mertua dan menantu punya benda bernama nurani itu, baru boleh menyuruhku pakai nurani!" Kepala desa menatap kedua wanita itu dengan ekspresi keheranan yang langka.
An Wenya juga menatap pasangan mertua dan menantu itu, dan seketika ia memahami perkataan ayahnya sebelum ia berangkat ke sini.
Ayahnya berkata bahwa orang-orang di pedesaan sebagian besar adalah orang yang jujur dan sederhana, jauh lebih mudah bergaul daripada orang kota yang berpengalaman luas namun licik, tetapi ia juga harus mengingat satu pepatah: air yang tenang menghanyutkan, daerah terpencil melahirkan orang-orang culas.
Pada detik itu, An Wenya tiba-tiba memahami arti dari pepatah tersebut.
An Wenya menatap tanpa ekspresi pada wanita yang masih saja berargumen membabi buta dan sama sekali tidak merasa bersalah itu. Di dalam hatinya, tiba-tiba muncul rasa jijik yang tak beralasan.
Tepat pada saat itu, Huo Chuanxian berjalan menghampiri An Wenya. Pada saat ini, pria yang sering dianggap kaku dan diabaikan oleh gadis kecil itu tiba-tiba bisa membaca suasana hati sang gadis. Ia berkata dengan lembut, "Aku baik-baik saja, aku tidak peduli, jangan marah."