Jilid Pertama Bab 42: Azuno-kun, Dialah Orang yang Seharusnya Kusukai
Fukukawa Naki akhirnya sadar kembali, lalu langsung membentak dengan amarah yang meluap-luap: "Azuno Kaede, kau tidak punya hak untuk memeriksa ponsel orang lain secara sembarangan!"
"Hah, seorang pelaku candid masih punya muka bicara soal hak asasi manusia?" Azuno Kaede sama sekali tidak ragu-ragu. Dengan satu tangan, ia mengangkat si peneriak Fukukawa Naki, mendaratkan sebuah tamparan telak di wajahnya, lalu membantingnya dengan keras ke atas meja.
Tanpa menoleh, remaja itu langsung bertanya kepada Hado Azumi yang berdiri di belakangnya: "Teman sekelas Azumi, apakah kau ingin melihat ponsel si mesum ini dulu, atau kita langsung menyeretnya ke ruang guru?"
Punggung pemuda itu tidak bisa dibilang lebar, tetapi pada detik itu, di tengah sejuknya angin pagi, sosoknya tampak membesar tanpa batas di mata Hado Azumi, menjelma menjadi figur yang kokoh dan bisa diandalkan.
Ia sangat tahu, perasaan yang kini bergejolak di lubuk hatinya...
Adalah rasa cinta yang amat murni.
Azuno-kun, dialah sebenarnya orang yang selalu dirindukannya selama ini.
Berbeda dengan perasaan suka kaum pria, seorang wanita sering kali, begitu ia menyadari dirinya menyukai seseorang, akan langsung menerjunkan diri ke dalam pertempuran bernama cinta bagaikan ngengat yang mendekati api.
Itu adalah kekuatan emosional yang dahsyat, cukup untuk meruntuhkan segala masa lalu.
Kini, Azuno Kaede telah sepenuhnya menggantikan posisi Suzuki Kenji di dalam hatinya, bahkan naik ke level yang jauh lebih tinggi.
Dan setinggi apa pun Azuno Kaede berdiri, sedalam itulah Suzuki Kenji jatuh terpuruk saat ini.
Perasaan maupun pribadi pria itu, mulai detik ini, tidak akan ada artinya lagi.
"Sistem, kurangi kecerdasan Fukukawa Naki sebesar dua poin," ucap Azuno Kaede dalam hati sambil terus menekan Fukukawa Naki.
| Kemampuan telah diaktifkan, kecerdasan Fukukawa Naki akan berkurang dua poin selama satu jam |
Seketika suara sistem itu berhenti, Fukukawa Naki yang tadinya sudah hampir menyerah untuk melawan tiba-tiba kembali meraung-raung: "Azuno Kaede, beraninya kau buka dan lihat ponsel itu. Kalau kau benar-benar bisa menemukan bukti aku melakukan candid, aku akan langsung berlutut dan meminta maaf padamu dan Teman Sekelas Azumi. Tapi kalau tidak ada, sebaiknya kau punya penjelasan yang masuk akal, atau bersiaplah untuk dikeluarkan dari sekolah."
Azuno Kaede tertegun sejenak, lalu menyunggingkan senyuman aneh: "Apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Tuhan melihat apa yang dilakukan manusia. Omongan kosong sebanyak apa pun tidak ada artinya tanpa bukti."
Suzuki Kenji merasa pusing tujuh keliling. Baru saja ia berpikir bagaimana cara menjelaskan hal ini kepada Hado Azumi, tetapi entah angin apa yang merasuki Fukukawa Naki, tiba-tiba pria itu menjadi begitu emosional dan menantang Azuno Kaede bertaruh.
Setelah emosinya sedikit mereda, ia perlahan-lahan teringat bahwa Fukukawa Naki sepertinya memang pernah mengatakan kepadanya bahwa ia hendak mencari-cari kelemahan Azuno Kaede.
Tidak ada pilihan lain. Demi mencegah situasi semakin memburuk, Suzuki Kenji terpaksa melangkah mendekati Hado Azumi dengan wajah penuh kepahitan untuk memohon pengampunan dari sang korban utama: "Azumi, Fuku-kun tidak bermaksud melakukan candid padamu. Ia punya alasan sendiri. Nanti akan aku jelaskan pelan-pelan padamu. Bisakah kau biarkan dia pergi sekarang?"
Rasa jijik di wajah Hado Azumi sama sekali tidak ditutup-tutupi. Tanpa suara, ia melangkah menjauh dari pria yang terus-menerus merendahkan standar integritasnya sendiri.
Yang benar saja, sudah jelas-jelas memotret kekasihnya secara diam-diam, namun pria ini masih bisa-bisanya memohon kepada sang kekasih agar memaafkan si pelaku. Menghadapi pria seperti ini, Hado Azumi merasa sekadar melihatnya sekilas saja sudah membuat perutnya mual.
Hado Azumi dalam diam mengambil ponsel yang sebelumnya diletakkan Azuno Kaede di tepi meja, lalu mulai membolak-balik galeri foto. Namun, ia sama sekali tidak menemukan foto candid yang dikatakan oleh Azuno Kaede.
"Teman Sekelas Azuno, sepertinya tidak ada foto di dalam ponsel ini," tanya Hado Azumi dengan alis indahnya yang berkerut, menyuarakan kekhawatiran.
Mendengar itu, Fukukawa Naki kembali berteriak dengan nada penuh kemenangan: "Azuno Kaede, kuperingatkan kau untuk segera melepaskan tanganmu, lalu berlutut dan minta maaf padaku. Mungkin dengan begitu kau masih bisa mempertahankan status mahasiswamu..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Azuno Kaede kembali melayangkan sebuah tamparan: "Bising sekali. Ada atau tidaknya foto, bukan kau yang menentukan."
Kekuatannya pas, membuat pusing tanpa mencederai otak.
Biar nanti tidak ada masalah serius yang berujung pada tuntutan ganti rugi dari pria ini.
Fukukawa Naki kembali menerima sebuah tamparan keras, membuatnya terperangah hingga kehilangan arah sejenak.
Kedua orang tuanya bahkan tidak pernah memukulnya, tetapi hari ini ia justru ditampar di depan umum oleh Azuno Kaede, seorang pemuda bukan anggota dewan siswa yang tampak biasa saja.
Begitu ia berhasil menguasai kesadarannya kembali, amarah yang meledak-ledak menyapu bersih sisa-sisa kewarasan yang memang sudah tipis akibat penurunan tingkat kecerdasannya. Hal itu membuatnya kembali meronta-ronta dengan liar, hingga akhirnya ia tak lagi memperdulikan martabat dewan siswa dan mulai melontarkan caci maki penuh kebencian.
Namun, umpatan "baka yaro" itu bahkan belum sempat meluncur dari bibirnya ketika sebuah teguran dingin langsung memotongnya.
"Fukukawa, jaga ucapanmu. Sebagai anggota dewan siswa, bukannya memberi contoh yang baik, kau malah ikut campur dalam masalah seperti ini. Sungguh mengecewakan."
Mendengar suara itu, Azuno Kaede tahu bahwa orang yang ditunggunya akhirnya tiba juga.
Meskipun datangnya sedikit terlalu cepat, kalau tidak, ia mungkin bisa memanfaatkan situasi dengan Hado Azumi untuk meraup lebih banyak utang budi.
Semua orang menoleh ke sumber suara dan melihat Nishi Gakue dengan penampilan rapi dan sepatu hak tingginya berjalan cepat memasuki ruang kelas, lalu berhenti tepat di hadapan keempat orang tersebut.
"Azuno, lepaskan dia dulu." Setelah mengusir para siswa yang mengerumuni mereka untuk menonton dengan tatapan tajam, Nishi Gakue mengalihkan pandangannya kepada Azuno Kaede dengan ekspresi yang sedikit melunak: "Katakan, apa sebenarnya yang terjadi?"
"Singkatnya, aku dan Teman Sekelas Azumi secara tidak sengaja mendapati Teman Sekelas Fukukawa ini sedang memotret Teman Sekelas Azumi secara diam-diam. Hanya saja, barusan kami tidak berhasil menemukan fotonya di dalam ponselnya..."
Azuno Kaede bertutur kata dengan lancar, hingga akhirnya dipotong secara tiba-tiba oleh Hado Azumi: "Teman Sekelas Azuno, terima kasih. Tapi... sudah tidak perlu lagi. Azumi tidak ingin drama konyol ini berlarut-larut, dan tidak ingin merepotkan guru lagi."
Sambil berkata demikian, Hado Azumi perlahan mengangkat kepalanya, menatap Suzuki Kenji yang berdiri di samping dengan ekspresi canggung: "Kenji, kali ini aku mendengarkanmu. Aku tidak akan, dan tidak ingin, mempermasalahkan hal ini lagi."
"Hanya saja..." Sudut bibir Hado Azumi tampak melengkung membentuk senyoman sinis, sebelum menatap lurus ke dalam mata Suzuki Kenji: "Jika ada lain kali, apakah kau akan tetap memaksaku untuk bersabar menghadapi orang yang kau sebut sebagai teman ini?"
Suzuki Kenji tidak menyadari kejanggalan dalam nada bicara Hado Azumi dan langsung menjawab tanpa berpikir: "Jika dia berani berbuat seperti itu lagi lain kali, aku pasti akan membuatnya membayar akibatnya."
Fukukawa Naki yang berada di samping langsung merasa tidak senang, tetapi begitu melihat tatapan dingin Nishi Gakue, ia kembali menundukkan kepalanya dalam diam.
Melihat perubahan situasi yang begitu membingungkan ini, Nishi Gakue merasa ada yang tidak beres dengan arah perkembangan masalah tersebut, meskipun ia tidak bisa menunjuk dengan tepat di mana letak kesalahannya.
Tepat saat ia hendak membuka mulut untuk memotong drama murahan antara kedua orang itu agar ia memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, bisikan lembut pemuda itu telah lebih dulu menyusup ke telinganya.
"Ibu Guru Nishi, Teman Sekelas Azumi sudah berkata begitu, jadi tidak ada artinya lagi bagi kita untuk memperpanjang masalah ini. Baik memeriksa rekaman CCTV maupun membawanya ke bagian teknik untuk pemulihan data ponsel, semuanya sudah tidak diperlukan lagi. Kurasa Teman Sekelas Azumi saat ini hanya ingin menenangkan diri seorang diri. Bisakah saya meminta tolong kepada Guru untuk pura-pura menganggap seolah-olah kejadian ini tidak pernah terjadi?"
Nishi Gakue mengerutkan kening, membantah: "Bukankah itu terasa kurang tepat..."
Azuno Kaede diam-diam menyelipkan selembar secarik kertas kecil ke telapak tangan wanita itu: "Jika Guru ingin tahu yang sebenarnya, silakan periksa rekaman CCTV pada dua waktu ini."
"Namun, masalah seperti ini, baik dari sudut pandang subjektif siswa maupun dari posisi Guru sendiri, pastinya tidak ingin dibesar-besarkan, bukan? Lagi pula, seandainya dewan sekolah mengetahuinya pun, kemungkinan besar mereka hanya akan menutup-nutupinya dan memberikan sanksi ringan. Pada akhirnya, hal itu justru akan menimbulkan trauma sekunder bagi Teman Sekelas Azumi..."
"Lebih baik kita menghormati keinginan korban saja..."
Di bawah tatapan ragu-ragu Nishi Gakue, pemuda itu menarik kembali tangannya, lalu tersenyum tipis kepada sang guru yang tampak termenung: "Secara tidak langsung, bukankah secarik kertas ini juga bisa dianggap sebagai rahasia kecil di antara kita berdua?"