O mal assombra o mundo atual, e os mortais, sob a sombra tecida pelos sábios e capazes, tremem ao se esconder entre as ruínas das calamidades. Alguns se abraçam, esperando encontrar um pouco de consolo. Outros elevam preces, ansiando por um milagre remoto. Alguns choram em silêncio, afogados na desolação do céu e da terra. Muitos já se tornaram insensíveis, aguardando resignados a libertação da morte. Apenas os poucos infelizes na linha de frente ainda, em nome da inconformidade, tentam reescrever o capítulo final da destruição. "Se este mundo é turvo, nós, com sangue e coração, lavaremos a imundície, e, rumo à morte, viveremos!" Heróis e mártires incendeiam suas almas, inabaláveis até o fim, exibindo tamanha graça transcendente; devem encarar a morte como um retorno ao lar. Feita a parte dos homens, que se importam com espíritos malignos e demônios! As ondas do mar distante não cessam, as dez direções se agitam e se dividem; por mais terrível que seja o cenário, eles jamais sucumbem.
Gelombang laut bergemuruh, di cakrawala yang jauh, gumpalan awan hitam yang menggetarkan datang mengelilingi seperti kabut, seolah mengisyaratkan nubuat kehancuran. Ombak menghantam karang tanpa belas kasihan, meninggalkan jejak buih yang segera menghilang, sementara kekuatan jahat menyapu luas, membawa bisikan makhluk jahat, kegelapan menutupi langit bagaikan tirai, tak ada secercah cahaya yang bisa menembus.
Empat samudra mengamuk, rakyat jelata menderita, benda pusaka bergemuruh, ilmu sihir dilepaskan... hiruk-pikuk kekacauan bergantian, tiada henti. Invasi besar-besaran makhluk jahat menyebabkan ombak mengamuk, angin dingin membadai, amarah alam dengan mudah menghancurkan bangunan-bangunan manusia.
Bencana melanda seluruh makhluk hidup, aliran dingin membekukan bumi, peradaban perlahan menghilang. Alam pun bersedih atas perang manusia, guntur menggelegar datang silih berganti, kilat sesekali membelah langit yang kosong, luka dan duka bercampur dengan hawa dingin yang memenuhi dunia.
Di era makhluk jahat, manusia biasa berlindung dengan ketakutan di balik perlindungan para cendekia, bersembunyi di reruntuhan. Ada yang saling merangkul, berharap mendapat sedikit penghiburan. Ada yang berdoa penuh harapan, mengharapkan keajaiban. Ada yang menangis diam-diam, tenggelam dalam kesedihan dunia. Lebih banyak lagi yang telah mati rasa, rela menunggu pembebasan melalui kematian.
Hanya sedikit dari mereka yang berada di garis depan, masih berjuang dengan tekad untuk mengubah akhir kehancuran.
"Jika tempat ini ternoda, kami akan membersihkannya