Bab Seratus Lima Puluh Delapan: Pertemuan Pertama dengan Nangong Xinnuo (3)
Jujur saja, Jiang Junya benar-benar sangat cantik!
Ia memiliki paras menawan yang begitu jelita hingga mampu meruntuhkan kota, serta bentuk tubuh seksi dengan proporsi keemasan.
Meskipun ia adalah seorang wanita yang telah menginjak usia tiga puluh tahun, justru karena pesona matang yang terpancar dari dirinya itulah yang membuat para pria semakin tergila-gila hingga meneteskan air liur.
Konon, bahkan Raja Minnan dulunya hampir terpesona olehnya dan berniat membawanya masuk ke dalam kediaman istana.
Bagi pemuda seusia Ye Chuwen, tentu saja hal itu lebih tidak perlu diragukan lagi.
Beredar kabar bahwa bintang baru dari Kediaman Pangeran Chen, Chen Xiche, telah begitu terpikat olehnya hingga jiwanya melayang dan bersedia mengikuti segala perintahnya.
Namun, kali ini, sebuah pengecualian justru terjadi!
Pria yang berada di hadapannya ini, justru menolaknya?
Ini benar-benar pertama kalinya dalam sejarah!
"Kau tahu siapa aku?"
Jiang Junya sedikit mengernyitkan alis indahnya, lalu bertanya dengan ekspresi serius.
Di Minnan, belum pernah ada satu pun pria yang menolaknya.
Apalagi ada pria yang mampu menahan pesonanya.
Mengenai hal ini, ia sangat percaya diri!
Sama sekali tidak ada!
Selama ia mengerahkan keseriusannya...
"Tidak tahu, dan tidak ingin tahu."
Jawab Ye Chuwen dengan nada datar.
Mendengar itu, Jiang Junya merasa sedikit kesal dan malu. "Sudah kubilang, aku Jiang Junya!"
"Oh? Lalu apa hubungannya?"
Ye Chuwen mengangkat kedua bahunya.
"Sebenarnya siapa anak muda ini? Berani sekali dia tidak tahu diuntung!"
"Hih, paling-piala cuma berlagak saja. Aku berani bertaruh, anak muda ini pasti sengaja jual mahal, ingin pura-pura menolak agar dikejar!"
Di sekitar sana, seseorang tak kuasa mengeluarkan dengkusan dingin.
Hanya saja, nada bicara itu menyiratkan sedikit rasa cemburu.
Jiang Junya menarik napas dalam-dalam, di wajahnya kembali terukir senyuman yang memikat. "Tampan, Kakak memberimu satu kesempatan lagi. Malam ini, jadilah pendampingku, aku jamin kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan di Minnan kelak."
Sambil berkata demikian, jemari indahnya yang putih mulus telah merangkul lengan Ye Chuwen.
Gerakannya sangat terbiasa, jelas menunjukkan bahwa ia sudah sering merayu orang lain dengan cara seperti ini.
Jiang Junya merasa dirinya semakin menyukai pria di hadapannya ini.
Mungkin karena pria ini berbeda dari para pria yang pernah ia temui sebelumnya, yang selalu bersikap seperti penjilat menyedihkan hingga membuat hatinya merasa jijik.
Namun, bagaimana ia bisa tahu bahwa pria seperti Ye Chuwen bukanlah seseorang yang bisa dijinakkan olehnya.
"Kuberi waktu tiga detik, singkirkan tangan kotormu, atau tanggung sendiri akibatnya!"
Ekspresi wajah Ye Chuwen sedikit berubah. Nada bicaranya yang dingin seolah mampu membuat udara di sekitarnya membeku.
Jiang Junya telah malang melintang di Minnan selama belasan tahun, bagaimana mungkin ia takut pada ancaman dari seseorang yang berwajah asing seperti Ye Chuwen?
Mendengar itu, ia bukannya melepaskan tangannya, malah semakin mengeratkan rangkulannya.
"Mencari mati!"
Plak!
Di samping mereka, Tang Dezhao melangkah maju satu langkah, lalu langsung menariknya dengan paksa.
Tanpa sedikit pun perasaan iba terhadap wanita, sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah Jiang Junya.
"Enyah!"
Bentak Tang Dezhao dengan suara dingin.
Setelah melakukan semua itu, beberapa orang mengikuti di belakang Ye Chuwen dan langsung pergi begitu saja.
Di tempat kejadian, para tamu yang menyaksikan pemandangan ini langsung tertegun bagaikan patung batu.
Terutama Jiang Junya, yang memegang pipinya dengan ekspresi benar-benar kebingungan.
Bayangkan saja, dirinya yang merupakan wanita terkemuka nomor satu di Minnan, justru mendapat tamparan di depan umum?
Meskipun ia hanyalah seorang wanita lemah, identitasnya sangat istimewa dan latar belakangnya sangat luar biasa kuat!
Bisa dikatakan, di Minnan, selain dua keluarga besar raja, klan bangsawan mana yang berani tidak memberinya muka?
Namun malam ini, ia justru dipukul orang di hadapan begitu banyak orang!
Ini benar-benar penghinaan pertama yang ia alami seumur hidupnya!
"Keparat, tunggu pembalasanku!"
"Tamparan ini, aku, Jiang Junya, bersumpah akan membalasnya seratus kali lipat!"
"Kalian, segera selidiki identitasnya! Begitu jamuan ini berakhir, langsung tangkap dia untukku!"
Sepasang mata indah Jiang Junya memancarkan niat membunuh yang penuh dendam kesumat.
Karena jamuan malam ini diadakan oleh Keluarga Nangong untuk menyambut kepulangan Nangong Xinnuo, Jiang Junya tidak berani membuat kekacauan secara terang-terangan di acara tersebut.
...
Malam semakin larut, kapal pesiar bermandikan cahaya yang gemerlap.
Para tamu saling bersulang dan tawa riang terus terdengar.
Dari waktu ke waktu, beberapa pasang mata menatap ke arah panggung yang dibangun di bagian atas geladak, tempat karpet merah terbentang lurus menuruni tangga.
Sebentar lagi, pemeran utama wanita malam ini, nona besar dari Keluarga Nangong yaitu Nangong Xinnuo, akan muncul di sana untuk menyapa semua orang.
Kedatangan Ye Chuwen dan rombongannya tidak menarik terlalu banyak perhatian.
Insiden kecil barusan pun sudah lama tenggelam di tengah gelak tawa dan keceriaan.
"Nona Xinnuo benar-benar memiliki pengaruh yang sangat besar ya, kabarnya bahkan Tuan Muda Nie dari keluarga raja judi Makau pun datang!"
"Tentu saja, Nona Xinnuo kan putri Raja Minnan sekaligus nona besar Keluarga Nangong. Jika di masa lalu, dia itu tokoh setingkat putri raja, bagaimana mungkin pengaruhnya tidak besar?"
"Oh ya, ngomong-ngomong, kalian sudah dengar belum? Raja Minnuan sepertinya telah mengatur pertunangan untuk Nona Xinnuo!"
"Benarkah? Siapa pria yang beruntung itu?"
"Hal itu kurang jelas, tapi kemungkinan besar adalah pemuda dari Kediaman Pangeran Chen, atau salah satu tuan muda dari Sembilan Klan Tersembunyi. Lagipula, selain mereka, orang biasa mana yang pantas bersanding dengan Nona Xinnuo?"
"Benar juga."
"Aku juga mendengar sebuah berita menarik, sepertinya tuan muda sulung Keluarga Nangong akhir-akhir ini sedang jatuh cinta, dia sering terlihat keluar masuk hotel bersama dua gadis muda!"
"Apa? Masih ada kejadian seperti itu?"
...
Plak!
Tepat ketika semua orang sedang memperbincangkan berita gosip tersebut, tiba-tiba seberkas cahaya kuat menyorot ke atas panggung!