Bab Ketujuh Puluh Tiga: Jika Kau Ingin Mati, Jangan Seret Aku!
Pada saat itu, Jiang Haochen tiba-tiba melirik ponselnya, lalu tersenyum, “Nona Su, ternyata bahkan Ketua kita sangat memperhatikanmu, dia minta aku nanti merekam video untuk dikirimkan padanya.”
“Ketua Xiao Yifan maksudmu?”
Begitu nama itu disebut, mata indah Su Lingsue langsung berbinar.
Xiao Yifan juga terkenal sebagai putra konglomerat di Kota Pesisir. Nama buruknya sebagai playboy sudah lama dikenal banyak orang. Namun meski gemar berfoya-foya, dia tetap memiliki kemampuan, jika tidak, mana mungkin dia bisa duduk di posisi Ketua Klub Chang’an. Yang lebih penting lagi, latar belakang Xiao Yifan sangatlah kuat!
Kakeknya sendiri adalah Ma Kunpeng, kepala Keluarga Ma, salah satu dari lima keluarga besar!
“Benar, Ketua Xiao memang selalu tertarik pada acara seperti ini. Kalau nanti aku kirim video saat kita menjebak kakak iparmu itu, dia pasti akan sangat senang.”
Jiang Haochen tersenyum tipis.
Su Lingsue semakin bersemangat, “Baiklah, nanti kita buat semeriah mungkin, asalkan Ketua Xiao senang!”
Di waktu yang sama, di sebuah ruang VIP sebuah hotel di Kota Pesisir.
Dua pria muda sedang asyik minum sambil bercakap-cakap.
Salah satu dari mereka tak lain adalah Ma Chengjie.
Sedang yang satunya lagi, memakai kacamata berbingkai emas, tampilannya tampak lemah lembut, bahkan sedikit feminin.
Pria ini adalah Xiao Yifan.
“Kakak sepupu, nanti aku ajak kau menonton acara seru, Klub Chang’an hari ini kedatangan anggota baru, yaitu putri kedua Keluarga Su…”
Xiao Yifan tampak begitu bersemangat menceritakan hal itu pada Ma Chengjie.
Memang di zaman sekarang, banyak orang kaya yang setelah tidak lagi mengejar materi, mulai mencari berbagai hiburan ekstrem demi mengisi kekosongan jiwa mereka.
Xiao Yifan bahkan sangat menyukai hal-hal seperti ini…
Ma Chengjie tanpa sadar berkata, “Jadi kalian akan mempermainkan kakak iparnya?”
“Tentu saja, jarang-jarang dapat kesempatan sebagus ini, masak tidak dimanfaatkan?”
Sudut bibir Xiao Yifan melengkung membentuk senyum licik.
Namun detik berikutnya, wajah Ma Chengjie tiba-tiba berubah, “Tunggu, Keluarga Su? Nama kakak iparnya itu, apakah Ye Chuwen?”
“Sepertinya iya? Aku tidak terlalu tanya, kenapa memangnya?”
Ma Chengjie seperti tersengat listrik, tiba-tiba berdiri, “Sekarang dia sudah sampai?”
“Mungkin belum, Kak, kau kenapa tiba-tiba begitu panik?”
“Kau masih tanya? Selagi masih sempat, cepat kita ke sana lihat sendiri!”
“Kalau kau mau cari mati, jangan seret-seret aku!”
…
Waktu terus berlalu, para putra dan putri konglomerat anggota Klub Chang’an sudah menyiapkan berbagai alat untuk menjebak, tinggal menunggu Ye Chuwen datang.
Saat itu, sahabat Su Lingsue yang datang bersamanya, Jiang Zihan, tiba-tiba menariknya ke samping, “Lingsue, lebih baik kau hentikan saja rencanamu, kakak iparmu itu tidak sesederhana yang kau bayangkan, kita semua tidak sanggup menanggung akibatnya!”
“Apa katamu? Aku tidak sanggup menghadapi seorang pria yang bucin?”
Su Lingsue hampir saja tertawa mendengar itu.
Jiang Zihan tampak sangat serius, “Ini sungguh, dengarkan aku, segera beritahu kakakmu yang sebenarnya, lalu kita pergi dari sini. Kalau tidak, kau bisa saja berbuat kesalahan besar!”
Nada Jiang Zihan terdengar menegangkan, namun Su Lingsue hanya menatapnya curiga.
“Zihan, sebenarnya apa yang kau maksud?”
“Duh, sulit dijelaskan sekarang, pokoknya dengarkan aku saja!”
Jiang Zihan tampak cemas.
Su Lingsue mendelik kesal, “Aku lebih tahu siapa dia dibanding kau. Kalau kau tidak mau ikut main, silakan pergi, jangan bicara sembarangan di sini, nanti menyinggung orang lain malah runyam.”
Belum sempat Jiang Zihan bicara lagi, Su Lingsue langsung menyuruh orang membawanya keluar dari ruang VIP.
Jiang Zihan yang sudah di lorong hanya bisa menghela napas, tak berdaya. Ia hanyalah keturunan jauh dari Keluarga Jiang. Tentang empat keluarga besar yang pernah bersujud di depan seseorang bernama Ye Chuwen, ia pernah mendengar dari orang tuanya.
Karena itulah, begitu tahu kakak ipar Su Lingsue juga bernama sama, ia langsung merasa ada yang tidak beres.
Mana mungkin ada kebetulan seperti itu? Lagi pula, nama itu juga tidak terlalu umum.
Karena peduli pada sahabatnya, ia ingin menasihati Su Lingsue agar segera mundur.
Namun jelas, Su Lingsue sama sekali tidak mempercayai ucapannya.
…
Detik demi detik berlalu, namun sosok Ye Chuwen masih belum muncul. Jiang Haochen pun jadi tak sabar, “Nona Su, kau yakin dia pasti datang? Sudah hampir setengah jam, loh.”
“Benar, jangan-jangan setelah kita tunggu lama, dia malah tidak berani datang, kan sia-sia usaha kita?”
Yang lain mulai ribut sendiri.
Su Lingsue mengerutkan kening, “Tidak mungkin, sepengetahuanku, asal kakakku yang meminta, dia pasti datang!”
“Baiklah, kita tunggu sebentar lagi.”
“Tapi Nona Su, kalau lima belas menit lagi dia tidak datang, berarti tesmu kali ini dianggap gagal.”
Jiang Haochen mengingatkan dengan nada agak kesal.
Mendengar itu, wajah Su Lingsue langsung berubah, dalam hati ia mengumpat.
“Ye Chuwen, dasar bucin tak berguna! Apa yang kau lakukan? Kalau sampai ini merusak rencanaku masuk Klub Chang’an, seumur hidup jangan harap kau bisa balikan sama kakakku!”
Sret!
Di saat bersamaan, di luar klub, mobil Su Muqing tiba-tiba berhenti mendadak.
Sret! Sret! Sret!
…
Belum sempat ia turun, beberapa mobil Mercedes hitam melaju kencang dan berhenti persis di belakang mobilnya.
Brak!
Puluhan pria berbaju hitam keluar dari mobil, langsung masuk ke klub dengan wajah garang.
“Berhenti!”
“Kalian mau apa?”
“Tahu tidak ini tempat apa? Berani-beraninya bikin keributan di sini!”
Beberapa satpam langsung menghadang di pintu masuk.
Klub Chang’an adalah tempat berkumpulnya para putra dan putri konglomerat Kota Pesisir, dengan latar belakang sehebat itu, para satpam pun merasa tak gentar menghadapi siapa pun.
“Aku, Ma Chengjie!”
Terdengar suara lantang, dan seorang pria muda berwajah dingin melangkah masuk, dikelilingi para pengawal.
Itulah Ma Chengjie!
“Apa lagi yang kalian tunggu? Hancurkan tempat ini!”
Seketika, Ma Chengjie dan para pengawalnya mengacak-acak klub itu hingga porak poranda.
Di dalam ruang VIP.
“Jiang, di luar sepertinya ada keributan.”
Seseorang mengerutkan dahi.
“Aku juga dengar.” Wajah Jiang Haochen berubah, “Ayo, kita lihat ke luar!”
“Apa jangan-jangan kakak ipar bucin itu sudah datang?”
Mata Su Lingsue justru berbinar.
Namun detik berikutnya…
Brak! Plak! Gedebuk!
Pintu ruang VIP tiba-tiba dijebol seseorang dengan tendangan keras!
Pintu kaca bertatah emas itu jatuh menghantam lantai, menggema seperti guntur!
Dalam sekejap, semua orang di ruangan itu membeku.
Ada apa ini sebenarnya?
Bukankah Su Lingsue bilang kakak iparnya itu cuma pecundang bucin?
Kenapa ceritanya jadi begini?