Bab Tiga Puluh Empat: Kakanda Wen, Aku Ingin Mengikutimu

Menantu Agung Sang Tabib Jun Song 3263kata 2026-02-08 10:32:32

Malam itu merupakan malam yang menegangkan bagi dunia persilatan di Kota Binhai. Tak ada yang menyangka, dalam satu malam, ketua Perkumpulan Pisau Kecil menghilang, markas besarnya disapu bersih, dan kekuatan raksasa yang telah mendominasi Binhai selama lebih dari empat puluh tahun itu runtuh seketika.

Mereka yang dulu tertindas oleh Perkumpulan Pisau Kecil dan hanya bisa bertahan hidup di sela-sela kekuasaan, kini melihat peluang. Mereka pun berebut wilayah, membuat situasi menjadi kacau dan penuh gejolak.

Saat itu, langit masih belum sepenuhnya terang.

Di kediaman keluarga Tang di Binhai, di sebuah ruang kerja, Tuan Tua Tang Tianfu terdiam setelah mendengar laporan dari putra sulungnya, Tang Wenzhong.

“Ayah, Tuan Ye bersikap keras kepala dan tak mau mendengar nasihat. Kini Perkumpulan Pisau Kecil telah dilenyapkan, aku khawatir Gunung Tianwu tidak akan tinggal diam. Menurut Ayah, apakah kita sebaiknya…”

Belum sempat Tang Wenzhong menyelesaikan ucapannya, Tuan Tua sudah mengangkat tangan memotongnya. Senyum samar pun terbit di wajahnya. “Sepertinya kita telah meremehkan anak muda itu. Bahkan Gunung Tianwu pun tak ia perhitungkan. Asal-usulnya tampaknya jauh lebih istimewa dari yang kuduga. Mungkin saja, ia juga berasal dari keluarga kultivator rahasia.”

“Masa, Ayah?” Tang Wenzhong ragu. “Aku sudah menyelidiki latar belakang Tuan Ye. Orangtuanya hanyalah warga biasa di sebuah kabupaten kecil di Provinsi Xiang. Mana mungkin berhubungan dengan keluarga-keluarga kultivator misterius itu?”

“Kau yakin apa yang kau dapatkan benar-benar nyata?” tanya Tuan Tua Tang. “Orang yang mampu menumpas Perkumpulan Pisau Kecil dalam semalam pasti setidaknya memiliki kekuatan kelas atas. Tokoh seperti itu, bahkan di Asosiasi Seni Bela Diri pun sangat langka. Apakah orang biasa mampu membesarkan ahli sehebat itu?”

“Jadi, menurut Ayah…”

Tuan Tua Tang tersenyum. “Wenzhong, kau memang berhati-hati, itu bagus. Tapi kali ini, kau tak boleh terlalu berhitung. Berteman dengan orang seperti dia adalah kesempatan langka bagi keluarga Tang.”

“Lagipula, Gunung Tianwu tidak semenakutkan yang kau kira. Memang benar mereka para kultivator, tapi konon karena suatu batasan, mereka umumnya sulit turun gunung. Karena itulah mereka butuh organisasi seperti Perkumpulan Pisau Kecil sebagai perpanjangan tangan di dunia fana.”

Tuan Tua Tang terdiam sejenak, berpikir, lalu melanjutkan, “Begini saja, urusan dengan Gunung Tianwu biar aku sendiri yang tangani. Aku akan minta Asosiasi Seni Bela Diri menjadi penengah. Sementara itu, kau lanjutkan saja tugasmu, terus bantu Tuan Ye sekuat tenaga untuk melacak keberadaan Lei Bao dan Fang Jianbing.”

...

Ketika Ye Chuwen kembali ke rumah sakit, langit sudah mulai terang.

Baru saja memasuki lorong ruang rawat darurat, ia sudah mendengar suara pertengkaran Su Muqing dengan seseorang.

“Apa-apaan ini? Kenapa kalian melarangku keluar?!”

“Nona Su, kami hanya menjalankan perintah. Mohon jangan mempersulit kami.”

Di depan kamar, dua pria berbaju hitam yang tampak seperti pengawal berdiri menghalangi pintu. Walaupun Su Muqing berusaha mendorong mereka, mereka tetap tak bergeming.

“Ada apa ini?”

Ye Chuwen berjalan mendekat. Melihat kehadirannya, kedua pria itu buru-buru menyingkir.

“Chuwen!”

Su Muqing langsung menghampiri dengan wajah penuh kecemasan. “Ke mana saja kau? Semalam aku tak bisa menghubungimu sama sekali!”

“Ini... kau sedang mengkhawatirkanku, ya?” Ye Chuwen sempat tertegun, lalu tersenyum.

Mendengar itu, Su Muqing pun sempat terdiam, baru sadar bahwa sikapnya barusan agak berlebihan.

“Bukan... bukan seperti itu. Aku hanya... hanya karena mereka menghalangiku keluar, jadi aku mencari-cari kau.” Ia berusaha menutupi perasaannya.

“Benarkah?”

Ye Chuwen hanya tersenyum, jelas tahu wanita itu bicara tidak sesuai isi hatinya.

“Mereka hanya khawatir akan keselamatanmu.”

Ia melambaikan tangan ke arah dua pengawal itu agar mereka pergi, lalu bertanya, “Ke mana kau ingin pergi? Aku antar.”

“Pulang.” jawab Su Muqing.

...

Di dalam taksi, keduanya sama-sama diam.

Su Muqing beberapa kali ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Ye Chuwen, namun setiap kali hendak bicara, ia urungkan.

Di satu sisi, ia khawatir pada Ye Chuwen. Di sisi lain, ia tak ingin terlihat terlalu peduli. Pergumulan batin itu membuatnya merasa serba salah.

Tak lama, taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Ye Chuwen lebih dulu turun, membukakan pintu untuk Su Muqing.

“Terima kasih.” Su Muqing menunduk pelan, lalu berbalik berjalan masuk ke dalam gedung.

Begitu mendengar suara mobil kembali melaju, ia tiba-tiba menoleh. Tatapannya mengikuti taksi yang menjauh, bibirnya digigit pelan, rona rumit terpancar di wajahnya.

Ye Chuwen kini terasa asing baginya, seolah selama ini ia belum pernah benar-benar mengenal pria itu.

Mungkin, andai ia tidak melihat kejadian kemarin, barusan ia pasti sudah menjelaskan tentang masa lalu mereka pada Ye Chuwen. Namun sekarang, ia merasa hal itu sudah tak perlu lagi.

Kadang kala memang seperti itu—ketika sebuah kesalahpahaman muncul dan kepercayaan antara dua orang hilang, maka kesalahpahaman lain akan terus bermunculan.

Bagi orang luar, mungkin semua masalah akan selesai jika salah satu pihak mau mengalah dan berinisiatif membuka pembicaraan. Namun bagi mereka yang terjebak di dalamnya, benang kusut di hati tak semudah itu untuk dilepaskan.

Sesampainya di rumah, begitu membuka pintu, ia melihat ibunya, Hu Xiulan, sedang menangis di sofa. Di kakinya berserakan botol dan toples yang pecah.

Su Muqing tertegun sejenak, lalu buru-buru mendekat dan bertanya, “Ibu, ada apa? Apa yang terjadi?”

“Ada apa? Tanyalah pada adikmu yang baik itu.”

Hu Xiulan semakin keras menangis saat melihat Su Muqing. Ia memukul-mukul dadanya, meratapi nasib, “Sungguh malang nasib Ibu, Muqing. Sudah susah payah membesarkan anak tak tahu diri, menyekolahkannya ke luar negeri, eh, malah dikeluarkan dari kampus! Hiks...!”

“Apa?! Lingxue dikeluarkan dari sekolah? Kapan itu terjadi?” Su Muqing tercengang.

“Sudah hampir setengah tahun. Hari ini Ibu baru tahu setelah menelepon temannya. Pantas saja beberapa bulan terakhir, ia sering minta uang. Ternyata dia cuma berfoya-foya di luar sana!”

Hu Xiulan menangis, “Muqing, Ibu ini sudah ditinggal ayahmu tanpa sepatah kata, ditinggal hidup berdua dengan kalian. Harapan Ibu satu-satunya cuma ingin adikmu rajin belajar dan sukses. Tapi inilah balasannya...”

“Hiks... Ibu tak mau hidup lagi, biar mati saja...”

Sambil berkata begitu, Hu Xiulan hendak membenturkan kepala ke meja. Su Muqing buru-buru menenangkannya sampai emosi ibunya sedikit mereda.

Setelah membujuk sang ibu kembali ke kamar untuk beristirahat, Su Muqing pun merasa lelah lahir batin.

Masalah dana saja sudah membuatnya pusing, kini adiknya, Su Lingxue, malah menambah beban baru.

Ia pun mengambil ponsel dan menelepon adiknya...

...

Sementara itu, Ye Chuwen sudah naik taksi kembali ke rumah sakit.

Tak disangka, baru saja masuk ke ruangannya, ia bertemu seseorang yang tak terduga.

“Kak Wen, akhirnya Anda datang juga. Aku sudah menunggu dari tadi.”

Qin Shou, dengan dua bungkus rokok bermerek di lengannya, segera menyapa Ye Chuwen begitu ia keluar dari lift.

“Ada apa?” Ye Chuwen mengangkat alis.

“Hehe, begini, waktu itu aku memang kurang ajar sampai menyinggung perasaan Kak Wen. Untung Kak Wen masih berbaik hati. Ini sekadar tanda permintaan maaf, semoga Kak Wen berkenan menerimanya.”

Sambil berkata, ia menyodorkan dua bungkus rokok itu.

“Masalah sudah berlalu, kau pun sudah menerima ganjarannya. Tak usah repot-repot, aku tidak perlu hadiah.”

Ye Chuwen menolak dan melangkah menuju ruang kerjanya.

“Kak Wen, ini cuma niat baikku. Tolong terimalah, aku mohon!”

Qin Shou tetap membuntuti sampai masuk ke ruangan.

Ye Chuwen menghela napas. Ia tahu pasti ada maksud lain di balik sikap Qin Shou, lalu langsung bertanya, “Sudah, katakan saja, apa maumu? Jangan berputar-putar.”

“Hehe, Kak Wen memang hebat, langsung bisa menebak niatku.”

Qin Shou meletakkan rokok dengan rapi di atas meja, lalu tersenyum, “Aku bicara terus terang saja, Kak Wen, aku ingin ikut Anda.”

“Apa? Ulangi?” Ye Chuwen terkejut.

“Aku ingin ikut Anda, Kak Wen. Terus terang, semalam di bar aku melihat sendiri kehebatan Anda. Aku sungguh kagum, makanya...”

“Tunggu.” Ye Chuwen memotong, “Kau ini pagi-pagi, kepalamu kebentur pintu ya?”

Ia langsung mengambil dua bungkus rokok itu, mendorong Qin Shou keluar bersama rokoknya, “Pergi sana, balik ke tempatmu! Jangan bercanda di sini.”

Setelah itu, pintu ruangannya dibanting tertutup.

Tapi Qin Shou tetap saja berteriak di luar, “Kak Wen, aku tidak akan menyerah! Aku akan terus mengikuti Anda. Kalau Anda tak mau menerimaku, aku akan datang ke sini setiap hari!”