Bab Delapan Puluh Delapan: Mimpi Buruk Su Muqing
“Hehe, jangan tegang, aku hanya ingin mengajakmu, teman lama, minum secangkir kopi saja,” kata Jin Xuzhe sambil tersenyum.
Beberapa belas menit kemudian, mereka berdua tiba di sebuah kafe. Setelah asal saja memesan secangkir latte, Su Muqing langsung bertanya to the point, “Katakan, apa sebenarnya keperluanmu mencariku?”
“Sebenarnya, yang ingin mencarimu bukan aku, tapi seseorang yang lain,” bibir Jin Xuzhe melengkung membentuk senyum penuh misteri.
Mendengar itu, wajah Su Muqing seketika berubah. Ia segera melirik ke sekeliling dan berkata, “Apa maksudmu sebenarnya? Siapa yang ingin menemuiku?”
Jin Xuzhe tertawa lantang. “Kenapa harus pura-pura tidak tahu? Sebenarnya kau pasti sudah menebak siapa yang kumaksud, tapi tenang saja, hari ini dia tidak datang. Kau tak perlu setegang ini.”
Setelah itu, ia menarik kembali senyumnya, berubah serius, “Terhadap Senior Nangong, benarkah kau sama sekali tidak merasa bersalah?”
Tatapan Su Muqing menjadi tegas. “Kenapa aku harus merasa bersalah? Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa!”
“Begitukah? Kalau begitu, kenapa setiap kali aku menyebut namanya, kau jadi setegang ini? Kalau memang tak ada hubungan, seharusnya kau tak perlu bereaksi sehebat itu, bukan?” Nada suara Jin Xuzhe mengandung ejekan.
“Mungkin kau tak pernah menyangka bahwa Senior Nangong ternyata masih hidup, benar, kan? Harus kau tahu, dulu dia celaka karena dirimu, tapi kau begitu kejam padanya. Ini pasti membuat Senior Nangong sangat terluka.”
Jin Xuzhe menatap Su Muqing dengan sorot mata menggoda.
“Urusanku dengannya, tidak ada hubungannya denganmu! Jika benar dia masih hidup dan punya dendam padaku, suruh saja dia datang menemuiku langsung!” Su Muqing membalas dengan marah.
Jin Xuzhe mengangkat bahu. “Tenang saja, Senior Nangong akan segera ke Binhai menemuimu sendiri. Tapi aku sarankan, kau dan seluruh keluarga Su sebaiknya bersiap-siap dari sekarang, sebab dia datang membawa amarah.”
“Apa? Dia benar-benar akan datang?” Su Muqing terkejut.
“Hahahaha, teman lama, jangan kira hanya karena kau sudah naik ke tangga tinggi Grup Chu Qing, kau bisa hidup tenang dan nyaman!” Jin Xuzhe tertawa keras, meninggalkan kalimat itu, lalu langsung pergi dari kafe.
Su Muqing masih duduk di tempatnya, wajahnya penuh kecemasan.
Perihal Senior Nangong, selama ini merupakan rahasia yang ia simpan rapat-rapat.
Sebenarnya, antara dia dan Senior Nangong tidak terjadi apa-apa. Tapi karena Senior Nangong jatuh cinta sepihak padanya, semua orang salah mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Terutama setelah Senior Nangong dikabarkan ‘meninggal dunia’, lalu Su Muqing menikah dengan Ye Chuwen, semua orang menganggap dia telah mengkhianati Senior Nangong.
Sejak saat itu, Su Muqing memutus kontak dengan teman-teman semasa kuliahnya. Rahasia ini tadinya hendak ia kubur selama-lamanya, namun siapa sangka ternyata Nangong masih hidup!
“Kalau dia benar-benar muncul, apa yang harus kulakukan?” Su Muqing tampak panik.
Yang paling membuatnya takut adalah latar belakang Senior Nangong yang begitu luar biasa.
Nama lengkap Senior Nangong adalah Nangong Wuji, putra bungsu keluarga Nangong, salah satu keluarga terpandang di Fujian Selatan.
Ayahnya, Nangong Wentian, bahkan menyandang gelar ‘Raja Fujian Selatan’!
Di masa kini, masih ada yang bergelar raja, sudah bisa dibayangkan betapa besar kekuasaannya!
Sebagai putra bungsu Nangong Wentian, Nangong Wuji sejak kecil mendapat cinta dan perhatian luar biasa.
Inilah yang membuat Su Muqing merasa takut.
Jika Nangong Wuji benar-benar datang ke Binhai, jangankan keluarga Su yang kecil, bahkan lima keluarga besar Binhai dan tiga keluarga rahasia Jiangnan sekalipun, bila bersatu pun hanya bisa tunduk patuh.
Karena memang bukan berada di level yang sama…
Keluarga Nangong hanya butuh satu kata, seluruh Provinsi Jiangnan harus mempertimbangkannya!
Jangan kira Su Muqing hanya seorang perempuan biasa, dulu ia adalah mahasiswi cemerlang di Universitas Xiamen, Fujian Selatan. Di angkatannya, banyak sekali orang-orang luar biasa.
Setelah lulus, ia langsung mengambil alih pabrik elektronik Hongguang milik ayahnya, pergaulannya makin luas, pengalaman dan wawasannya pun sangat dalam.
Pengetahuannya tentang keluarga Nangong jauh lebih banyak dari orang biasa.
Itulah mengapa setelah insiden Nangong Wuji, Su Muqing segera menghentikan kuliah, membatalkan rencana melanjutkan S2, dan pulang ke Binhai.
Bertahun-tahun berlalu, perlahan-lahan ia mulai melupakan soal Nangong Wuji.
Namun hari ini, kenangan yang telah lama terkubur itu kembali terbangun.
...
Vila nomor satu di Sheshan.
Orang yang bernama ‘Su Zheng'an’ akan segera pulang.
Hari peringatan pernikahannya dengan Su Muqing juga semakin dekat.
Setelah menyelesaikan semua urusan ini, Ye Chuwen berniat pergi dari Binhai.
Saat itu, mungkin penyelidikan soal Raja Fujian Selatan juga akan mendapatkan hasil.
“Xiao Ning, cepat beres-beres, aku tidak ingin setelah vila ini kuserahkan pada Muqing, hewan-hewan peliharaanmu masih berkeliaran di mana-mana.”
Ye Chuwen memanggil Tang Ning yang berkepribadian ceria, agak tak berdaya.
Tang Ning menggaruk kepala. “Baik, Tuan Ye, kucing dan anjingku gampang diurus, tapi bagaimana dengan orang-orang hidup yang dikurung di kandang itu?”
“Apa maksudmu orang hidup?” Ye Chuwen tertegun.
Tang Ning menjawab, “Itu lho, orang-orang yang kita tangkap tempo hari, para anggota Perguruan Silat itu dan si Yu Zhengxie yang katanya jagoan nomor satu Jiangnan. Atau bagaimana kalau kubur saja mereka di belakang bukit?”
“Kembalikan saja ke tempat asal,” Ye Chuwen melambaikan tangan, lalu setelah berpikir sejenak, berkata, “Sudahlah, biar aku sendiri yang mengurusnya. Kalau masalah ini tidak diselesaikan tuntas, ke depannya pasti akan terus mendatangkan masalah.”
...
Provinsi Jiangnan, sebuah desa modern yang terletak di antara Binhai dan Suzhou.
Di sinilah tanah leluhur keluarga besar Yu yang terkenal, yaitu Desa Yu.
Tiga keluarga rahasia besar, keluarga Yu, keluarga Long, dan keluarga Liu, setiap tahun setelah upacara leluhur selalu mengadakan jamuan makan untuk mempererat hubungan.
Tahun ini, jamuan makan diadakan di kediaman keluarga Yu.
Di pintu masuk desa, deretan mobil mewah terparkir rapi, bak pameran mobil kelas atas.
Meski tiga keluarga rahasia selalu bersikap rendah hati dan hubungan mereka cukup baik, namun setiap tahun di saat seperti ini, tetap saja mereka saling bersaing secara diam-diam.
Sebenarnya, kekuatan ketiga keluarga ini hampir setara.
Namun setelah keluarga Yu melahirkan Yu Zhengxie yang disebut sebagai jenius langka, keluarga Yu mulai unggul dari keluarga Long dan Liu.
Saat ini, ketiga kepala keluarga berkumpul.
Kepala keluarga Liu, Liu Muyun, tiba-tiba mengusap matanya dan bergumam, “Ada apa ini? Dari tadi kelopak mata kananku terus berkedut, rasanya tidak enak.”
“Apakah ini pertanda akan terjadi sesuatu?” Liu Muyun tak tahan menatap Long Daorong dan Yu Guanxing.
Long Daorong tertawa, “Liu, jangan-jangan kau kebanyakan baca kitab kuno sampai kebawa mimpi? Masak masih percaya omongan begituan? Kelopak mata kanan berkedut, kenapa? Di tanah Jiangnan ini, siapa yang berani cari gara-gara dengan keluarga Liu?”
Liu Muyun mengangkat tangan, “Kau tak mengerti, Daorong. Semakin kuteliti kitab kuno, semakin kurasa itu kitab langka yang luar biasa. Tidak bisa dianggap remeh, aku harus kembali nanti dan meramal, pertanda ini tak boleh diabaikan.”
Selesai berkata, ia menoleh ke arah Yu Guanxing, heran, “Yu, kenapa dari tadi kau muram saja? Tidak senang aku datang?”
Long Daorong menarik lengan Liu Muyun, “Ayo masuk dulu ke dalam rumah, nanti aku jelaskan semuanya.”