Bab 35 Kecantikan Terletak pada Tulang, Bukan Kulit
Para murid berkerumun di ambang pintu, tampak ragu-ragu. Mereka saling pandang, namun tak ada seorang pun yang berani bersuara sebelum Yu Hao memberikan instruksi.
Lu Huaijin segera bangkit dari duduknya untuk memberikan tempat bagi Yu Hao. "Guru."
"Tidak apa-apa, duduklah," sahut Yu Hao sambil mengernyitkan dahi. Ia mengangkat dagunya sedikit, menunjuk ke arah karya muridnya. "Ukiran kayu ini... apakah ini seseorang yang sedang menari?"
Gerakannya cukup dinamis dan pakaian yang dikenakan pun terkesan tipis.
"Benar, Guru." Lu Huaijin belum sepenuhnya menyelesaikan ukiran tersebut. Ia telah berusaha keras untuk memahat struktur tubuh manusia dengan lebih detail.
Secara keseluruhan, ukiran itu menampilkan sosok yang sedang berdiri, mengenakan atasan lengan pendek dan celana panjang. Pakaian yang tipis dan transparan itu mempertegas siluet tubuh yang anggun. Ini adalah teknik yang diajarkan Zhao Lishu kepadanya: lipatan kain adalah manifestasi eksternal yang mencerminkan struktur internal. Demi melatih pemahaman akan struktur dan bentuk tubuh, Lu Huaijin bahkan belum memahat bagian wajahnya. Fokusnya benar-benar tertuju pada struktur anatomi.
Karena Yu Hao tidak berucap, yang lain pun tidak berani mengeluarkan suara. Mereka semua diam memperhatikan Lu Huaijin yang sedang memahat dengan tekun. Ia membangun struktur dasarnya terlebih dahulu, kemudian secara perlahan mengukir detailnya, terutama pada lipatan kain yang memerlukan ketelitian ekstra karena ia belum terbiasa.
Saat ia menyelesaikan karyanya, hari sudah hampir gelap. Lu Huaijin mengembuskan napas panjang setelah memberikan sentuhan akhir. Namun, saat ia mendongak, ia terkejut.
Para rekan seperguruan yang tadi siang tampak antusias dan penuh rasa ingin tahu, kini tampak layu seperti terong terkena panas matahari. Mereka menatapnya dengan pandangan pasrah. Beberapa orang bahkan sudah tidak sanggup berdiri tegak dan bersandar lemas pada kusen pintu. Mereka yang berada di barisan belakang mencoba mencuri kesempatan untuk merenggangkan otot, namun bagi mereka yang sial dan berdiri di barisan depan—tepat di depan mata Yu Hao—mereka tidak berani bergerak sedikit pun meski kaki mereka sudah terasa pegal dan lemas.
Jika di awal mereka sempat merasa kesal karena mengira Lu Huaijin sengaja mempermainkan mereka, kini perasaan itu telah berganti menjadi kekaguman. Mereka menyadari bahwa selama mereka berdiri menunggu, selama itu pula Lu Huaijin terus memahat tanpa henti. Tidak hanya itu, ia bekerja dengan sangat serius; tidak ada satu pun goresan yang sia-sia, tidak ada satu pun gerakan yang tidak perlu. Ia bahkan tidak mendongak sedikit pun, seolah tidak menyadari kehadiran mereka. Bahkan para seniornya pun dibuat takjub oleh ketekunan tersebut.
Adapun rekan yang tadi memancing mereka untuk menonton, kini hanya bisa terdiam setelah menerima beberapa tatapan tajam dari rekan-rekannya. Mereka hanya berharap Lu Huaijin bisa belajar dengan cepat agar mereka tidak sampai melewatkan jam makan malam.
Lu Huaijin menatap mereka dengan bingung. Mengapa mereka tidak masuk? Ia kemudian melirik ke samping dan mendapati Yu Hao entah dari mana sudah membawa kursi, duduk dengan santai sambil mengawasinya.
"Sudah selesai?"
Lu Huaijin mengangguk dan menyerahkan patung tersebut. "Sudah, Guru."
Yu Hao menerimanya dan mengamatinya dengan saksama. Terlihat jelas bahwa Lu Huaijin belum sepenuhnya mahir dalam struktur tubuh manusia. Hasil keseluruhan ukiran tersebut memang cukup baik, namun sebagian besar keberhasilannya bergantung pada kesan atmosfer yang dibangun. Jika dilihat dari struktur anatominya...
"Lehernya terlalu panjang, dan bagian sendi di sini serta di sini masih terasa kasar," ujar Yu Hao sambil menunjuk dengan jarinya. Setelah terdiam sejenak, ia mengulurkan tangan. "Pisau datar."
Mata Lu Huaijin berbinar, ia segera memberikan pisau yang diminta. Para murid yang lain tanpa sadar ikut melangkah maju untuk melihat. Yu Hao tidak memedulikan mereka; ia melakukan koreksi sendiri sebagai peragaan bagi Lu Huaijin. "Contohnya, pada struktur lengan, kau harus mempertimbangkan hubungan setiap tulang, lalu mengekspresikan hubungan antara tulang dan daging melalui bentuk tersebut."
Setelah sedikit perbaikan, postur penari itu tampak jauh lebih luwes. "Bagaimana? Apa perubahannya?" tanya Yu Hao sambil menatapnya.
Lu Huaijin berpikir sejenak sebelum menjawab dengan ragu, "Terasa... lebih enak dipandang."
Itu memang pernyataan yang umum, namun Yu Hao mengangguk. "Enak dipandang sebenarnya adalah hasil dari struktur yang benar." Ia bahkan menggunakan pagoda sebagai contoh. "Pagoda tampak sederhana, padahal strukturnya sangat kompleks. Harus ada kerangka yang kokoh agar memiliki jiwa. Begitu pula dengan manusia. Keindahan terletak pada tulang, bukan sekadar kulit. Jika ingin ukiranmu tampak hidup, kau harus menyusun kerangkanya dengan benar terlebih dahulu."
Kata-kata itu membuat Lu Huaijin tersadar. "Jadi, saya tidak perlu terus-menerus terpaku pada detail di satu tempat. Daripada memikirkan itu, lebih baik menyesuaikan struktur keseluruhannya terlebih dahulu."
"Ya." Yu Hao tersenyum puas. Ia mengembalikan ukiran dan pisau itu kepada Lu Huaijin, memintanya untuk membuat yang baru sebagai latihan. "Latih ini selama sepuluh hari lagi. Setelah sepuluh hari, aku akan mengujimu kembali." Jika ia masih gagal, Lu Huaijin harus pulang.
"Baik, Guru," jawab Lu Huaijin dengan mantap.
Yu Hao beranjak pergi, tidak lagi mengawasi latihan Lu Huaijin. Ia sempat melirik ke arah murid-murid lain, membuat mereka semua segera berdiri tegak dengan gemetar. Namun, mungkin karena performa Lu Huaijin membuatnya puas, Yu Hao tidak menghukum mereka dan pergi begitu saja.
Begitu ia pergi, semua orang menghela napas lega. "Terima kasih, Saudara Muda Lu," ucap seorang senior dengan nada penuh syukur. "Untung kau sangat serius hari ini, kalau tidak, kita semua pasti sudah dihukum cambuk."
Lu Huaijin menatap mereka dengan heran. Meskipun bukan itu niatnya, ia menerima rasa terima kasih mereka dengan senyuman kecil. Rekan yang tadi ingin mengejeknya kini tampak ciut dan bersembunyi di balik kerumunan. Lu Huaijin tidak memedulikannya dan kembali fokus memilih kayu untuk dikerjakan.
Mungkin karena terpengaruh oleh keseriusannya, perlahan-lahan rekan-rekan yang lain pun mulai ikut berlatih. Di sana, Lu Huaijin berlatih selama empat hari empat malam tanpa henti. Yu Hao datang dan pergi, namun setiap kali muncul, ia selalu memberikan arahan. Koleksi ukiran di depan Lu Huaijin perlahan bertambah hingga sepuluh buah. Semakin lama, gerakannya semakin cepat. Bimbingan langsung dari guru sekelas Yu Hao memberikan kemajuan yang sangat pesat.
Bahkan setelah keluar dari ruang latihan, Lu Huaijin masih merasa seolah-olah ia masih berada di sana. Tanpa ragu, ia mengambil bongkahan kayu dan mulai memahat kembali. Karena sudah terbiasa, kali ini ia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menciptakan sosok wanita menari. Kepala yang sedikit mendongak, rambut panjang yang melayang di udara, tangan yang terangkat, dan satu kaki yang bertumpu pada ujung jari, sementara kaki lainnya bergerak dengan luwes.
Sesaat setelah ia selesai, platform perdagangan menyala.
[Barang Dagangan]
Barang yang dapat diperdagangkan: Ukiran Kayu Penari (Poin: 320)
Jual: Ya | Tidak
Mata Lu Huaijin berbinar, ia tanpa ragu menekan tombol "Ya". Biaya peningkatan totalnya adalah lima ratus poin, dan sekali jual ia sudah mendapatkan kembali lebih dari tiga ratus. Jika ia membuat satu lagi, bukankah ia bisa langsung balik modal?
Benar saja, ada pengorbanan, maka ada hasil!