Bab 46 Lin Yiyi Terjebak dalam Kabut Hitam, Sang Dewa Turun!
Pagi hari, Fang Yi membuka matanya.
Pukul delapan pagi.
Tanpa perlu pergi bekerja atau sekolah, bangun jam sekian adalah waktu yang pas.
Namun...
"Biasanya jam segini, Sepupu sudah menyiapkan sarapan dan memanggilku bangun. Hari ini tumben sekali tidak dengar dia memanggilku, apakah dia masih malas-malasan di tempat tidur?"
Fang Yi merasa agak heran, lalu bangkit untuk mencuci muka dan sikat gigi.
Kepopuleran insiden "Langit Api Satu Tebasan" mereda dengan sangat cepat. Baru lewat sehari, catatan tentangnya sudah tidak bisa dicari di seluruh internet, seolah-olah ada tangan besar yang menghapus segala jejak manusia darinya.
Pihak atasan yang turun tangan rupanya.
Jika tidak disembunyikan, hal itu akan memicu gejolak sosial dan berbagai spekulasi.
Sementara pihak resmi belum berencana mengumumkan kebangkitan energi spiritual secara total, tindakan seperti ini sangatlah masuk akal.
Fang Yi keluar dari kamarnya, lalu mengetuk pintu kamar sebelah. Tidak ada jawaban, ketika didorong terbuka, ruangan itu kosong melompod.
"Benar dugaanku, dia sudah pergi."
Fang Yi keluar, membuat sarapan seadanya untuk mengisi perut, lalu mengecek berita sebentar.
Dua jam berlalu, sang sepupu ternyata belum juga kembali. Fang Yi merasa sedikit curiga dan melirik ke arah pintu depan, sandal tertata berantakan.
"Pergi keluar karena ada urusan mendesak? Sudah selama ini, tapi kenapa tidak mengirimiku pesan?"
Sepupu biasanya selalu memberitahu terlebih dahulu jika keluar untuk mencari fenomena perubahan besar langit dan bumi, tetapi kali ini dia tidak mengatakan apa pun.
Insting Fang Yi mengatakan ada yang tidak beres, lalu ia menelepon nomor Lin Yiyi.
[Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan...]
Di luar jangkauan?
Tiba-tiba, ekspresinya menjadi dingin.
Mungkinkah sesuatu telah terjadi?
...
Glup.
Kabut hitam pekat menyelimuti sekeliling, bagaikan air laut yang kental, menenggelamkan manusia dan membuat mereka tak bisa bernapas. Tidak secercah cahaya pun yang mampu menembus tempat ini. Aura dingin dan jahat membuat Lin Yiyi tak kuasa bergidik.
Sudah berapa lama?
Wajah Lin Yiyi pucat pasi, mengamati sekeliling. Di belakangnya, seorang wanita menawan berusia 81 tahun tampak gemetar ketakutan, ada bekas luka darah di bahunya yang jelas menunjukkan bahwa ia sudah terluka.
Mereka terjebak di sini selama dua jam.
"Yiyi, aku telah menyeretmu..."
Lin Yiyi tidak menjawab, ia tetap menatap waspada ke sekeliling.
Gelap!
Kegelapan yang pekat!
Sejauh mata memandang, yang tersisa hanyalah warna hitam pekat yang menyesakkan. Cahaya dari segala makhluk di langit dan bumi telah ditelan, sehingga tidak ada lagi secercah cahaya yang bisa ditemukan. Bahkan untuk melihat keanehan pun menjadi sebuah kemewahan.
Energi spiritual mengepul di sekeliling tubuhnya, cahaya putih tipis mengisolasi kabut hitam di luar. Kabut-kabut hitam itu melilit dan bergelombang di luar, bagaikan tentakel monster yang bersembunyi di dalam malam kelaparan, menunggu momen ketika mangsanya kehilangan konsentrasi.
Melihat pemandangan ini, mata wanita menawan itu penuh dengan rasa bersalah. Situasi yang mereka hadapi hari ini sepenuhnya adalah salahnya. Hantu aneh ini tidak sengaja ia temui, dan kemudian Lin Yiyi datang untuk membantu.
Ia pikir itu hanyalah entitas aneh biasa, tetapi ia tidak menyangka bahwa entitas itu memiliki trik dan kemampuan yang sangat licik.
Dialah yang telah menyeret Yiyi ke dalam bahaya.
Entitas aneh itu tampaknya tidak berniat memakan mereka, melainkan ingin menjebak dan memurnikan mereka di sini. Bagi makhluk aneh, para pelopor yang kuat adalah nutrisi terbaik.
"Pada akhirnya, kita memang terlalu lemah."
Lin Yiyi mencengkeram tangannya erat-erat.
Masih tidak bisa melakukannya, ya?
Namun pada saat itu, tubuh Lin Yiyi tiba-tiba bergetar. Kilatan cahaya spiritual memancar dari tangannya, mengalir ke satu arah.
Syu!
Suara energi spiritual menembus daging terdengar.
Bruk—
Sesosok manusia dengan kulit yang sangat busuk dan bernanah tertusuk oleh cahaya spiritual.
Sosok berdarah yang mati rasa itu pun roboh.
Kendati demikian, ekspresi kedua orang itu sama sekali tidak mereda.
Terlalu banyak.
Pemandangan seperti ini sudah tidak terhitung berapa kali terjadi.
"Mereka semua ini sepertinya adalah orang-orang yang terjebak sampai mati di sini, dan sekarang telah menjadi mayat hidup dari entitas aneh itu. Ia sedang mempermainkan kita dan ingin mengasimilasi kita juga."
"Di tempat ini, ia tampaknya tidak terkalahkan," ucap Lin Yiyi dengan suara pelan.
Begitu suaranya jatuh.
Riak air tercipta di sekeliling, samar-samar menembus kegelapan bagaikan darah kental, membuat suasana di sekitarnya terasa semakin membeku.
Di dalam kabut hitam ini, energi spiritual mereka sendiri terkonsumsi dengan gila-gilaan.
Syu!
Sepasang mata yang dingin dan penuh kejahatan memancarkan seringai mengejek, tiba-tiba terbuka di dalam kegelapan, bagaikan celah ruang yang robek.
Pupil mata wanita menawan berusia 81 tahun itu mengecil drastis. Jelas-jelas begitu gelap hingga mustahil melihat apa pun, namun ia justru melihat bola mata berdarah yang menjijikkan, seolah-olah itu sengaja dilakukan oleh entitas aneh tersebut... Makhluk itu berdiri di ujung kegelapan, meremehkan kedua orang yang dianggapnya sebagai mangsa, dengan sudut bibir yang menyunggingkan senyum cemoohan seperti manusia.
Saat berikutnya, di dalam kegelapan yang lebih dalam dan menyesakkan daripada tinta, muncullah bercak-bercak merah aneh, berpilin, menggeliat, cacat, memancarkan bau busuk mayat.
Mereka berjalan terhuyung-huyung ke arah sini, seolah-olah tidak ada habisnya...
"Matilah! Makhluk keparat!"
Wanita menawan itu bangkit dan menebas dengan pisaunya.
Namun, tatapan mata itu lenyap seketika dengan suara kepakan sayap.
Kabut hitam pekat menelan mereka sepenuhnya.
"Makhluk itu telah kehilangan kesabarannya, berhati-hatilah."
Keringat dingin mulai membasahi kening mulus Lin Yiyi.
Semakin banyak mayat hidup di sekitarnya, dingin dan mati rasa, kulit mereka tampak keputihan seolah-olah telah lama terendam air. Tiba-tiba mereka mulai bergerak, berlari kencang.
Tak terhitung banyaknya pasang mata mekar di tengah tetesan darah.
Seiring langkah mereka yang semakin mendekat, kabut hitam di langit menyapu ke arah mereka. Penghalang yang rapuh itu tampak seolah-olah akan runtuh pada detik berikutnya.
Apakah akan mati?
Wajah Lin Yiyi dipenuhi dengan keputusasaan.
Ia tahu jalur evolusi ini sendiri penuh dengan bahaya, dan ia juga pernah berpikir apakah dirinya akan jatuh di suatu sudut gelap tanpa ada yang peduli. Seperti apa era setahun dari sekarang? Dan peran seperti apa yang akan dimainkan oleh para pelopor yang bersembunyi di muka bumi saat ini?
"Nona, kita mungkin akan tumbang di saat-saat terakhir menjelang fajar. Kemegahan kebangkitan energi spiritual, tidak bisa kita saksikan lagi..."
Ia tidak bisa lagi mendengar suara wanita menawan itu.
Kemungkinan besar, wanita itu telah ditelan oleh kegelapan.
Semuanya sudah berakhir...
Krek.
Penghalang energi spiritual mengeluarkan suara retakan yang tajam.
Kabut hitam di hadapannya, bagaikan hyena yang melihat daging empuk, menerkam ke arah Lin Yiyi dengan buas.
Tetapi pada saat ini.
Cepat!
Petir tiba-tiba meledak di telinga Lin Yiyi, ia mengangkat matanya dengan terkejut.
Seketika itu juga, badai petir menyapu langit, bagaikan fajar yang merobek segala kegelapan. Itu adalah sosok yang kurus namun tegak berdiri, dengan sombong merobek kabut hitam yang mustahil dilawan ini.
Yang tertangkap oleh pandangannya adalah sepasang mata yang sedikit terlihat pasrah.
Ia turun bagaikan dewa.