Bab Sembilan: Teknik Petir Tingkat Tujuh, Petir Pemutus! (Bagian Satu)
Tak lama kemudian, Su Yanying tiba di depan Arena Pertarungan Bintang bersama Tikus Petir miliknya.
Meski ia tidak mengenakan seragam akademi, petugas keamanan jelas mengenali Su Yanying. Tanpa perlu ia menunjukkan kartu pelajar, petugas langsung mempersilahkannya masuk.
“Serangan Api Kembang!”
“Itu Anjing Api Merah yang mengeluarkan Serangan Api Kembang!!”
“Sungguh disayangkan, serangannya meleset, berhasil dihindari oleh Binatang Api Iblis. Tunggu, ada yang aneh! Serangan Api Kembang itu berputar balik, astaga, ia menyerang kembali!!”
Baru saja memasuki arena pertandingan, Su Yanying sudah mendengar suara wasit yang penuh semangat, menggema di seluruh stadion, memekakkan telinga.
Di saat yang sama, dari kursi penonton di kedua sisi lorong masuk, terdengar sorak-sorai kaget serempak.
Su Yanying tetap tenang. Bagi dirinya, pemandangan seperti ini sudah sangat ia kenal.
Matanya menyapu sekitar dan segera menemukan tempat kelasnya.
Kelas Tiga Dua.
Ia bergegas ke sana, namun baru setengah jalan terlintas di benaknya bahwa Tikus Petir miliknya masih tertinggal di belakang...
Makhluk kecil ini... ia belum pernah membawa Tikus Petir ke ajang sebesar ini. Dengan suasana megah penuh sorakan ribuan orang, jangan-jangan hewan kecil ini jadi ketakutan?
Su Yanying buru-buru menoleh, namun melihat Tikus Petir tetap setia mengikuti di samping kakinya. Saat ia berhenti, si Tikus pun ikut berhenti, lalu menengadah menatapnya dengan mata kecil yang tampak kebingungan.
Tak terpengaruh rupanya... Su Yanying diam-diam merasa lega. Peliharaan bintang bukan sekadar binatang liar, mereka punya pemikiran dan kecerdasan sederhana. Kalau karakter dasarnya penakut, biasanya sudah tidak berani melangkah di situasi seperti ini.
Karena waktu sudah mepet, ia baru saja mengambil kembali Tikus Petir, belum sempat melatihnya atau memberinya waktu beradaptasi.
Sekarang melihat tikus mungil itu begitu berani, tanpa rasa takut sedikit pun, Su Yanying cukup terkejut dan senang.
“Yanying, ke mana saja kamu tadi? Aku cari-cari sampai panik sendiri!” sahut sahabatnya, Lan Lele, segera bangkit dan berlari menghampiri.
“Aku tadi ambil peliharaan bintang.” jawab Su Yanying sambil mengikuti Lele ke bangku belakang kelas. Ia melirik ke panggung dan bertanya, “Sudah pertandingan ke berapa?”
“Sudah ronde keempat. Sebentar lagi giliran si Es Batu dari kelas kita, habis itu kamu.” ujar Lan Lele, menunjuk ke arah seorang gadis berambut hitam di depan. Gadis itu, sama seperti Su Yanying, menjadi pusat perhatian di kelas. Lingkungan yang kompetitif membuat mereka saling bersaing diam-diam.
Sebagai sahabat Su Yanying, Lan Lele jelas tidak menyukai gadis itu.
“Oh.” Su Yanying mengangguk, tak terlalu peduli dan menatap ke arah arena.
Saat itu, Lan Lele melihat Tikus Petir di kaki Su Yanying yang sedang asik menggerogoti kulit buah di lantai, lalu terkejut, “Ini Tikus Petir yang dulu kamu titipkan? Apa dia kelaparan, sampai makan apa saja?”
Mendengar ucapan itu, Su Yanying ikut menoleh dan melihat si Tikus Petir dengan lahap memakan kulit buah. Wajahnya seketika berubah.
“Jangan makan itu, kotor.” ucap Su Yanying tegas. Melalui kekuatan kontrak, ia menyampaikan maksudnya pada Tikus Petir.
Sebagai orang yang suka kebersihan, ia tak bisa menerima peliharaannya memakan sampah dari lantai.
Sekaligus, ia teringat pada toko peliharaan itu.
Toko penipu sialan!
Begitu pertandingan selesai, ia pasti akan melapor ke Asosiasi Peliharaan Bintang!
Merasa perintah tuannya, Tikus Petir itu berhenti, berkedip, tampak polos.
“Kamu bawa dia ke sini, memang mau menurunkannya bertanding?” Lan Lele memandang Tikus Petir itu dengan heran, tak percaya pada Su Yanying.
“Tentu saja.” Su Yanying menjawab mantap.
Lan Lele membelalakkan mata indahnya, “Kamu gila? Ini Kejuaraan Tahunan Peliharaan Bintang, peserta terendah saja sudah bintang tingkat dua. Kamu menurunkan Tikus Petir, apa tidak sama saja menyuruhnya mati?”
“Aturannya jelas, dilarang sampai ada korban jiwa. Kalau berbahaya, wasit pasti langsung menghentikan.” jawab Su Yanying.
“Tetap saja, meski tidak sampai mati, menurunkan Tikus Petir tidak ada gunanya. Dia cuma makhluk tingkat satu menengah, lawan manapun bisa mengalahkannya.” Lan Lele benar-benar tidak mengerti.
“Aku tahu.” Mata Su Yanying memancarkan keyakinan kuat, “Tapi jangan lupa, aku menguasai teknik rahasia penambah kekuatan bintang tingkat tiga! Semakin rendah level peliharaan, semakin besar efek peningkatannya. Dengan begitu, ia bisa bertarung setara peliharaan tingkat dua menengah. Ditambah taktik dan komando dariku, cukup untuk melawan peliharaan lain!”
Lan Lele paham betul kemampuan sahabatnya, tapi tetap heran, “Bukannya keluargamu sudah memanggil penyembuh tingkat tinggi untuk memulihkan kekuatan ‘Macan Seratus Taring’ milikmu? Kenapa bukan dia yang kamu turunkan?”
“Semua orang mengira dia masih terluka dari pertarungan sebelumnya. Sekarang dia jadi kartu as-ku, tidak boleh sembarangan dipakai.” jawab Su Yanying serius.
Lan Lele baru mengerti, lalu menghela napas, “Kalau dipikir-pikir, memang sial juga nasibmu. Baru awal sudah ketemu lawan-lawan sulit. Kalau tidak, kamu pasti tidak akan seberat ini.”
Su Yanying terdiam, tak menanggapi.
Saat itu, pertarungan di arena sudah selesai. Pemilik Anjing Api Merah keluar sebagai pemenang, kedua kontestan turun satu per satu.
Bersamaan itu, gadis yang dijuluki “Si Es Batu” oleh Lan Lele, berdiri perlahan. Seketika perhatian seluruh siswa laki-laki dan beberapa tatapan iri pun tertuju padanya.
“Beruntung sekali dia, lawannya mudah semua!” Lan Lele bersungut-sungut.
Su Yanying mengerutkan kening, diam.
Beberapa menit kemudian, pertarungan berikutnya selesai. Gadis berwajah dingin itu perlahan turun dari panggung.
Su Yanying merasakan, gadis itu sempat melirik ke arahnya.
Tatapan itu seolah berkata, jangan bikin aku kecewa…
Hmph!
Su Yanying mengepalkan jemarinya, namun wajahnya justru semakin tenang.
“Ayo.” Ia bangkit. Ucapan itu ditujukan pada Lan Lele dan juga pada Tikus Petir di sampingnya.
Tikus Petir merasakan perubahan suasana hati tuannya. Ia pun berdiri tegak, dan seberkas kilatan tajam melintas di matanya yang sipit.
Namun, tak ada seorang pun yang memperhatikan sorot mata seekor Tikus Petir rendahan, sehingga tak ada yang menyadari bahaya yang tersembunyi di baliknya.
Menelusuri lorong, melangkah ke depan panggung, Su Yanying menaiki tangga satu per satu.
Tikus Petir melompat-lompat mengikutinya.
Di tengah arena yang luas, Su Yanying berdiri tenang, menantang sorot mata ribuan penonton.
Wajah gadis itu sama sekali tak menunjukkan rasa takut, matanya tegak dan tenang.
“Itu Su Yanying dari kelas Tiga Dua!”
Wasit segera mengumumkan namanya dengan penuh semangat, “Selanjutnya, mari kita lihat di layar besar, siapa lawan yang didapatkan oleh Su Yanying!”
Semua mata tertuju ke layar skor raksasa di atas arena, di mana deretan foto berkedip-kedip sebelum akhirnya berhenti.
“Celaka!” Lan Lele melihat foto lawan yang muncul, wajahnya berubah. Itu adalah Zhang Xiao dari Tiga Tujuh, lawan tangguh dan salah satu yang terkuat di kelasnya!
Wajah Su Yanying ikut berubah sedikit.
Sial! Kenapa lagi-lagi harus bertemu lawan sulit?
Tak lama kemudian, lawannya pun naik ke arena.
Seorang remaja laki-laki dengan tinggi sekitar satu meter tujuh puluh lima, rambut hitam pendek, sorot mata tajam, mengenakan arloji mewah, terlihat sedikit liar dan bergaya anak orang kaya.
“Kamu dari kelas dua, Su Yanying?” Zhang Xiao tersenyum meremehkan, “Sepertinya hari ini aku sedang beruntung. Kudengar peliharaanmu yang lain sudah cedera semua, sekarang cuma mengandalkan tikus kecil di sampingmu ini?”
Wajah Su Yanying mengeras, hatinya pun ikut tenggelam.
“Pertandingan sistem dua dari tiga, masing-masing hanya boleh menurunkan tiga peliharaan, dilarang mencederai lawan dengan sengaja. Pertandingan dimulai!” Wasit di samping arena mengumumkan dengan suara dingin.
Zhang Xiao tersenyum tipis, mengangkat tangan dan mengaktifkan kekuatan kontraknya. Tiba-tiba, ruang di depannya berputar dan terdistorsi, lalu muncul sosok yang diselimuti api hitam.
“Kekuatan Angin Tingkat Dua!” Tubuh Zhang Xiao memancarkan cahaya putih samar, berubah menjadi pusaran angin yang melilit di keempat kaki makhluk api hitam itu. Itulah kemampuan penguat dasar yang dikuasai para pelatih bintang.