Bab 48 Gadis Harta Karun
"Bibi He?"
Melihat sosok cantik di hadapannya, Chen Xiaoan berkata dengan sedikit keheranan, "Sudah lama sekali aku tidak melihat jajanan Bibi He, aku jadi merindukannya. Kenapa Bibi tidak berjualan di sini lagi?"
Bibi He rupanya juga menyadari kehadiran Chen An. Ia memarkir sejenak gerobaknya di tepi jalan, dan senyumlah yang ramah terukir di wajahnya.
Bagaimanapun, jarang ada orang yang bisa berkomunikasi dengannya, dan Chen An adalah anak yang ia saksikan tumbuh besar, sehingga hubungan mereka cukup dekat.
Bibi He memberi isyarat dengan tangannya: Beberapa waktu lalu ada pemimpin yang datang melakukan inspeksi, petugas ketertiban umum menindak dengan tegas dan tidak memperbolehkan berjualan. Hari ini sudah tidak apa-apa.
Chen An mengangguk. Kemunculan Bibi He tanpa sadar kembali menghadirkan sosok rapuh itu di benaknya.
Akhir-akhir ini urusannya sangat padat, sampai-sampai ia lupa pergi menjenguknya.
"Astaga! Bos kita ternyata paham bahasa isyarat juga?" kata Huanhuan terkejut.
"Kuberi tahu sebuah rahasia, Bos itu sebenarnya juga murid SMA Huazhong, loh," bisik Beibei secara diam-diam di telinganya.
"Darimana kau tahu?" Huanhuan semakin terkejut.
"Aku pernah suatu kali melihatnya keluar dari lingkungan Huazhong."
Keduanya sama-sama lulusan sekolah kejuruan yang langsung bekerja, tentu saja mereka mengagumi orang-orang yang pandai mengenyam pendidikan, terlebih lagi di SMA unggulan.
Tempat ini tidak cocok untuk parkir dalam waktu lama, jadi Chen An menumpang gerobaknya menuju ke tempat mangkal. Ia berniat membeli lebih banyak makanan untuk para pekerja renovasi dan kedua gadis di tokonya.
Mungkin karena keahlian memasak Bibi He yang luar biasa, ditambah sudah lama tidak berjualan di sini, serta kebetulan berpas-pasan dengan jam makan malam, tentu saja ditambah dengan pesona penampilannya, pembeli yang datang lumayan banyak.
Sambil menikmati jajanan, Chen An menyuruhnya untuk mendahulukan pesanan pelanggan yang lain terlebih dahulu. Mengingat antrean yang begitu panjang, ia sendiri tidak sedang terburu-buru.
Namun Bibi He tetap bersikeras, membuat Chen An tidak punya pilihan selain membantu menghitung total belanjaan dan mengembalikan uang kembalian.
Pada masa itu, pembayaran menggunakan pindai kode QR belum begitu populer, sehingga para pedagang kecil menghabiskan banyak waktu hanya untuk menghitung uang kembalian.
Tidak lama kemudian, Chen An kembali ke toko teh susu dengan membawa kantong-kantong belanjaan yang besar.
"Wah! Bos, kamu bahkan membawakan kami makanan. Bos, kamu benar-benar orang baik! Sudah tampan, dermawan pula!" Mata kedua gadis, Huanhuan dan Beibei, berbinar-binar.
"Jangan senang dulu, sebentar lagi kalian akan disibukkan dengan pekerjaan."
Kedua gadis itu menjawab dengan gumaman samar, namun mereka sama sekali tidak menganggapnya serius.
Faktanya, ada begitu banyak toko teh susu di luar sana. Sekalipun bos berniat menekan harga, setelah pelanggannya terbagi-bagi, arus pengunjung pasti tidak akan terlalu ramai. Apa yang harus disibukkan?
"Para Tukang, silakan istirahat sebentar di bawah. Mari makan sesuatu, kalian semua sudah bekerja keras."
Chen An memanggil para pekerja renovasi untuk turun dan beristirahat.
Setelah memperhatikan sejenak, jam belajar mandiri malam akan segera dimulai, sehingga Chen An harus bersiap kembali.
Bagi dirinya saat ini, jam belajar mandiri malam sebenarnya bisa dilewati. Ia berniat mencari kesempatan untuk berbicara dengan Pak Tua Huang.
"Bruk!"
"Ma, maafkan aku."
Sebuah suara yang lembut dan merdu masuk ke telinganya.
Chen An tadi sedang melamun memikirkan sesuatu sehingga tidak memperhatikan sekitar. Ketika ia tiba-tiba berhenti di gerbang sekolah, punggungnya tanpa sengaja ditabrak oleh seseorang dari belakang.
"Tidak apa-apa, aku tadi sedang memikirkan sesuatu makanya tiba-tiba berhenti. Ini salahku."
Alur pikiran Chen An buyar. Ia memalingkan kepala dan mendapati bahwa orang ini tampak agak familiar.
Gadis itu berdiri di tempat dengan kepala tertunduk dan punggung yang agak membungkuk. Rambut panjangnya tergerai alami menutupi sebagian besar wajahnya.
Karena tinggi badan Chen An jauh melebihi dirinya, ia sama sekali tidak dapat melihat rupa gadis itu dengan jelas.
Namun, mungkin karena jarak mereka yang terlalu dekat sementara gadis itu terus menundukkan kepalanya, belahan kerah seragam sekolahnya yang agak terbuka membuat Chen An tanpa sengaja melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Kilatan kulit putih bersih itu sempat membuat Chen An merasa sedikit terpesona.
Ya ampun, sejak kapan SMA Huazhong punya begitu banyak "monster" bermunculan?
Karena Chen An menghalangi pintu masuk, gadis itu tidak bisa lewat dan hanya bisa berdiri mematung di tempat tanpa tahu harus berbuat apa.
Melihat gerak-geriknya yang serba salah dan gelisah, Chen An yang sudah sadar kembali merasa geli. Ia lantas bergeser dua langkah untuk memberikan jalan.
"Te, terima kasih." Usai berucap demikian, adik kelas itu berlari pergi dengan cepat bagaikan rusa ketakutan.
Chen An tersenyum tipis. Adik kelas ini bertingkah seolah-olah dirinya adalah monster yang mengerikan saja.
Baru saja ia hendak melangkah menuju ruang kelas, ia mendapati sebuah ponsel tergeletak di tanah. Jelas sekali benda itu milik sang adik kelas, yang mungkin terjatuh tanpa disadarinya saat menabraknya tadi.
Maka ia pun buru-buru berteriak lantang, "Hei, ponselmu terjatuh!"
Tak disangka, adik kelas itu bukannya menoleh, malah semakin mempercepat langkahnya dan kabur bagai dikejar hantu! Dalam sekejap, sosoknya sudah hilang dari pandangan.
???
Chen An memasang ekspresi penuh tanda tanya. "Apakah penampilanku seseram itu?"
Mau tak mau ia membuka ponsel tersebut untuk memeriksa daftar kontaknya, dan mendapati hanya ada dua nomor sederhana yang tersimpan di sana.
Satu tercatat dengan nama "Ibu", dan satu lagi tercatat dengan nama "Qianqian".
Adik kelas sekampungan yang separah ini tingkat kecemasan sosialnya? Hanya punya satu teman saja?
Daftar kontaknya bahkan lebih bersih daripada wajahku sendiri.
Namun, ada kemungkinan juga orang jaman sekarang lebih suka berkomunikasi lewat QQ, dan Chen An tentu merasa tidak etis mengintip privasi orang lain.
Chen An merenung sejenak. Menghubungi ibu adik kelas ini sekarang sepertinya tidak ada gunanya, jadi ia hanya bisa menelepon orang yang terdaftar dengan nama Qianqian tersebut.
Ponsel itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
"Halo." Su Qianqian mengeluarkan ponselnya dan melihat bahwa panggilan itu berasal dari sahabat baiknya, Chen Weifeng. Ia baru saja menekan tombol terima ketika melihat Chen Weifeng berjalan masuk dengan kepala tertunduk.
Maka ia pun spontan menutup panggilan tersebut.
"Weifeng, apa ada hal darurat? Kenapa meneleponku padahal kamu sudah sampai di sini?" tanya Su Qianqian dengan nada bingung sambil melihat Chen Weifeng duduk di bangkunya.
Chen Weifeng tertegun sesaat, tidak mengerti maksud dari perkataan sahabatnya itu.
Pikirannya saat ini masih terasa kosong. Insiden tidak sengaja menabrak seseorang di gerbang sekolah tadi membuatnya dilanda kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
Chen Weifeng meraba saku pakaiannya untuk mencari ponsel, tetapi ia mendapati saku itu kosong. Ponselnya hilang!
Ia terpaku di tempat, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena panik.
"Jangan menangis. Tadi ada seseorang yang meneleponku, tapi karena kulihat kamu sudah datang, aku menutupnya begitu saja. Pasti ada yang memungut ponselmu, jangan panik," bujuk Su Qianqian dengan lembut seraya menenangkan.
"Aku akan menelepon balik." Tepat saat ia hendak melakukan panggilan, ponselnya justru berdering sekali lagi.
"Ponsel teman kalian ini terjatuh. Kalian teman sekelasnya, kan? Cepat ambil ke sini, aku ada di gerbang sekolah." Chen An, yang panggilannya sempat ditolak sekali, merasa sedikit tidak sabar dan menelepon kembali.
Jika bukan karena dirinya yang tiba-tiba berhenti hingga menyebabkan adik kelas itu menabraknya, Chen An juga malas mengurusi urusan sepele seperti ini.
"Ayo, aku temani kamu turun." Meskipun Su Qianqian sendiri sebenarnya agak canggung bersosialisasi, ia tahu betul bahwa sahabatnya ini bukan hanya pemalu, tapi juga penakut luar biasa.
Nada bicara senior tadi terdengar agak ketus. Takutnya nanti sahabatnya malah digertak jika pergi sendirian.
"Hmm." Chen Weifeng menundukkan kepalanya, bergeming pelan, lalu membiarkan Su Qianqian menarik tangannya dan berjalan turun bersama.
Chen An, yang berdiri di dekat gerbang sekolah, mengarahkan pandangannya ke arah tempat adik kelas itu menghilang tadi. Tak lama kemudian, terlihat dua siswi berjalan ke arahnya sambil bergandengan tangan.
"Sepertinya itu senior yang waktu itu." Setelah mendekat, Su Qianqian menyadari dengan terkejut bahwa pemuda tinggi dan tampan di hadapannya ini adalah senior yang memiliki suara sangat lembut di ruang ujian hari itu.
Chen Weifeng merasa bingung di dalam hatinya. Ia mendongak sedikit untuk melihat sekilas, dan seketika itu juga ia terpaku.
Sosok Chen An telah terpatri di dalam retinanya.
Chen An sudah berjalan mendekati mereka dan berhasil mengenali keduanya—dua adik kelas yang pemalu dari ruang ujian hari itu.
Betapa kebetulannya.
Namun, tepat saat Chen An hendak mendekat untuk mengembalikan ponsel tersebut, ia pun ikut tertegun.
Yang tertangkap oleh pandangannya adalah sebuah wajah cantik yang menggemaskan, dengan sisa-sisa air mata yang masih menghiasi sudut matanya.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di antara para siswi SMA Huazhong, tersembunyi seorang gadis ber