Bab 47 Perhitungan Kecil

Já renasci, e ainda me forçam a querer tudo, né? Domínio total 2425kata 2026-08-03 04:39:19

Qiao Siwen sedang berbincang-bincang dengan akrab dan diselingi tawa bersama sahabat baiknya.

"Siwen, coba lihat."

Tanpa diduga, sahabat baiknya, Jiang Guiyan, tiba-tiba mengulurkan tangan dan menunjuk ke suatu arah seraya berkata kepadanya.

Qiao Siwen pun mengikuti arah pandangan tangan temannya itu. Karena ia memiliki sedikit rabun jauh—meskipun tidak parah—jika dari jarak jauh, ia hanya bisa samar-samar melihat sepasang pria dan wanita sedang bersenda gurau dan bercanda, sementara wajah mereka tidak terlihat jelas.

"Ada apa?" tanya Qiao Siwen dengan nada penuh kebingungan mau tak mau.

Jiang Guiyan menatapnya dengan ekspresi tak bisa berkata-kata, "Penglihatanmu sepertinya semakin parah saja. Itu Chen An dan Yu Yue, apa kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas?

Chen An ini, setelah gagal mengejarmu, berbalik dan malah menjalin hubungan dengan Yu Yue!" Setelah itu, ia meludah kecil di lantai dan melanjutkan, "Cih, benar kata orang, tidak ada satu pun pria yang bisa dipercaya."

Baru saat itulah Qiao Siwen menyipitkan matanya untuk melihat ke arah sana, dan setelah mencocokkannya dalam hati, ia menyadari bahwa itu memang benar-benar mereka berdua.

Namun, saat ini Qiao Siwen tidak lagi yakin apakah Chen An benar-benar menyukainya dulu, dan ia pun mulai meragukan dirinya sendiri.

Beberapa waktu lalu, dengan susah payah ia menahan amarah demi menambahkan kontak Chen An, bahkan mengiriminya pesan sebagai pengingat.

Namun, beberapa hari kemudian, saat ia hendak mengiriminya pesan lagi, ia mendapati dirinya telah dihapus oleh pria itu! Hal ini membuatnya sangat murka hingga ia tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari.

Qiao Siwen mengakui bahwa selama bertahun-tahun ini ia belum pernah menghadapi trik semacam itu, dan ia memang sempat merasa terpancing, tetapi rasa marahnya jauh lebih mendominasi.

Ia berfikir, jika Chen An benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun padanya, tidak mungkin pria itu menerima permintaan pertemuannya, lalu baru sengaja menghapusnya beberapa hari kemudian.

Bukankah ini tipikal permainan tarik ulur? Hanya saja, cara yang dimainkan Chen An ini tergolong sangat tingkat tinggi.

Pada saat ini, dengan riasan di wajahnya, ia merasa bahwa kecantikannya tidak kalah dari Yu Yue, bahkan di beberapa bagian ia merasa lebih unggul daripada gadis itu.

Ia bersiap untuk menghampiri Chen An guna meminta penjelasan, sekaligus melontarkan beberapa kalimat sindiran kepada Yu Yue. Namun, Jiang Guiyan justru mengulurkan tangan dan menghentikannya.

"Guiyan, kenapa kamu menghentikanku?" Qiao Siwen mengerutkan keningnya, tidak mengerti mengapa sahabat baiknya itu menghalanginya.

"Pria seperti itu, tidak usah diladeni. Aku saja merasa jijik melihatnya!

Baru saja mengirim surat cinta, lalu menuntutmu untuk langsung menerimanya. Ketika ditolak, surat cinta yang sudah diberikan malah ditarik kembali dan diberikan kepada orang lain. Dia itu merasa dirinya siapa?"

Jiang Guiyan meludahi arah tempat Chen An berada.

Qiao Siwen memang merasa tindakan temannya itu sedikit kasar, tetapi mendengar perkataan tersebut, hatinya merasa jauh lebih lega.

"Lalu Yu Yue itu juga, benar-benar tidak tahu malu. Sejak SMP dia selalu memusuhi kita, padahal jelas-jelas kamu selalu bersabar mengadapinya.

Dia masih saja bersandiwara di sana, pura-pura suci demi mencari muka dan menyenangkan orang lain, benar-benar memuakkan untuk dilihat.

Mereka berdua itu sama saja bajingan, biarkan saja mereka bersama, sungguh pasangan yang sangat cocok!" ucap Jiang Guiyan dengan ekspresi penuh kebencian.

Qiao Siwen mengangguk setuju. Perkataan Jiang Guiyan seketika membantunya mendapatkan kembali sedikit rasa percaya diri, tetapi hal itu saja masih belum cukup untuk meredakan kemarahannya.

Dalam hatinya, ia meyakini bahwa meskipun Yu Yue mungkin tidak menyukai Chen An, gadis itu pasti memiliki ketertarikan yang besar terhadap pria tersebut.

Dan setelah rasa percaya dirinya pulih, ia meyakini bahwa Chen An jauh di lubuk hatinya masih menyimpan perasaan padanya, hanya saja penolakannya tempo hari telah melukai harga diri pria itu—ya, pasti begitu!

Ia masih berniat menjadikan Chen An sebagai budak cinta yang patuh padanya seperti dulu.

Dengan begitu, ia bisa mempermainkan Chen An sesuka hatinya dari waktu ke waktu, sekaligus membuat perempuan sok suci itu mati karena kesal!

Terlebih lagi, yang terpenting adalah ia mendapati bahwa Chen An kini telah bertransformasi menjadi seorang murid berprestasi. Meskipun ia lebih menyukai pria berwajah tampan dan berdompet tebal, status sebagai murid berprestasi juga merupakan nilai plus. Kombinasi wajah tampan dan status murid berprestasi pada diri Chen An sudah sangat layak untuk dijadikan sebagai cadangan pengikut setianya.

Namun, sahabatnya Jiang Guiyan tampaknya tidak begitu menyukai Chen An. Oleh karena itu, bola matanya berputar sejenak lalu ia berkata, "Guiyan, meskipun aku juga sangat membenci mereka berdua, toh sejak masa SMP kita tidak sedikit menderita karena ulah Yu Yue. Apakah kamu rela begitu saja?"

"Kalau tidak rela memangnya bisa apa? Dia itu sangat pandai bersandiwara, dan lagi dia punya orang dalam di sekolah, siapa yang berani macam-macam dengannya? Coba lihat senior yang dulu menyukaimu, bukankah dia dipaksa pindah sekolah? Kalau aku mengingatnya saja sudah emosi, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa padanya!" ucap Jiang Guiyan dengan nada geram.

"Coba kamu pikirkan, kamu sendiri bisa melihat kalau Yu Yue menyukai Chen An.

Kalau begitu, kita harus mencari cara agar Chen An berada di pihak kita. Coba bayangkan, bagaimana reaksinya nanti kalau Yu Yue melihat Chen An bersamaku?"

"Dia pasti akan sangat marah!" Jiang Guiyan membayangkan adegan itu saja sudah merasa sangat puas.

"Lalu setelah itu, kita tinggal mempermainkan Chen An dari waktu ke waktu dan menyuruhnya untuk membuat perempuan itu kesal. Menurutmu, apa yang akan terjadi padanya?"

"Dia pasti akan hancur lebur! Tapi, apakah cara seperti itu tidak apa-apa? Kalau nanti dia merasa malu lalu marah besar, bagaimana jika dia menggunakan koneksinya untuk mencelakai kita?" Jiang Guiyan merasa sedikit khawatir.

"Bagaimana bisa? Kita kan tidak melakukan apa-apa. Dulu kan senior itu yang membuat kehebohan hingga semua orang tahu, dan setelah diperingatkan masih saja berulah. Kita kan tidak langsung berkonflik dengannya."

"Benar juga ya." Mata Jiang Guiyan berbinar, seolah baru saja menemukan dunia baru.

"Oleh karena itu, hal terpenting bagi kita sekarang adalah bagaimana cara membuat Chen An berdiri di pihak kita," bujuk Qiao Siwen dengan sabar.

Jiang Guiyan menjawab tanpa berpikir panjang, "Kalau begitu kan gampang, kamu tinggal datang langsung kepadanya dan katakan kalau kamu menyukainya, bukankah beres? Lagipula tujuan kita hanya untuk membuat Yu Yue jijik, cukup buat dia muak untuk beberapa waktu saja. Toh orang seperti dia itu paling pintar bersandiwara, mungkin tidak lama lagi dia juga akan biasa saja."

Qiao Siwen tertegun sejenak. Namun, ia tidak ingin melakukannya dengan cara itu, sebab jika ia melakukannya, hal itu pasti akan meruntuhkan citranya selama ini yang dikenal memiliki didikan keluarga ketat dan tidak akan berpacaran sebelum kuliah, yang pada akhirnya justru akan membuatnya kehilangan sebagian besar budak cintanya.

"Cara itu tidak bisa, aku juga harus menjaga harga diriku. Cari cara lain."

"Ah? Kalau begitu akan sangat sulit." Jiang Guiyan merasa kesulitan.

Qiao Siwen meliriknya sekilas, dalam hati ia meremehkan temannya itu yang ternyata hanya bisa koar-koar di belakang. Ketika diminta memberi ide, sama sekali tidak bisa diandalkan.

Setelah berpikir cukup lama, Jiang Guiyan tiba-tiba mendadak mendapat ilham dan berkata, "Bukankah malam kesenian sekolah sebentar lagi akan diadakan? Kenapa kamu tidak mengundangnya saja untuk menjadi pasangan dansamu..."

"Jangan, jangan! Acara itu kan harus tampil di atas panggung. Kalau nanti dia mempermalukan dirinya sendiri, aku juga yang akan ikut menjadi bahan tertawaan orang-orang," potong Qiao Siwen dengan tegas sebelum kalimat temannya itu selesai.

"Kamu ini bodoh ya, tentu saja itu hanya pura-pura, mana mungkin benar-benar mendaftar? Kamu bisa menggodanya saat latihan. Dengan kecantikanmu begini, pria mana yang mampu menahannya? Hanya saja cara ini mungkin akan mengorbankan sedikit kecantikanmu dan cuma membuat si bajingan itu diuntungkan secara cuma-cuma."

"Cara ini sepertinya bisa dipertimbangkan." Mendengar itu, Qiao Siwen mengangguk, sementara benaknya mulai merencanakan perhitungan kecil.

……

Renovasi toko teh susu kini sudah mendekati tahap akhir setelah berjalan beberapa hari ini.

Ibu Chen An baru bisa mengundurkan diri pada akhir bulan ini, bagaimanapun juga pihak keluarga tempatnya bekerja memiliki anak kecil, dan mereka tentu membutuhkan waktu untuk mencari pengasuh baru sebagai pengganti.

Jika ia langsung pergi begitu saja, hati ibu Chen An tidak akan tenang. Terlebih lagi setelah bergaul begitu lama, lambat laun ia pasti memiliki ikatan emosional dengan anak tersebut.

Ibu Chen An itu sebenarnya hanya keras di mulut saja. Di luar ia sering mengeluhkan kenakalan dan sifat pilih-pilih makanan anak dari keluarga tersebut, namun ketika saatnya harus berpisah, ia tetap merasa enggan dan berat hati.

Chen An sangat bisa memahami perasaan ibunya.

Seperti biasa, begitu pulang sekolah, Chen An langsung datang untuk meninjau perkembangan renovasi toko teh susu tersebut.

Tanpa diduga, di sana ia justru berpapasan dengan sesosok bayangan yang tidak asing lagi.