Bab 11: Kau Bukan Kucing Liar
Suara mengeong yang sangat lemah tertangkap oleh telinga Yu Ning. Ia pun mencari sumber suara tersebut.
Di balik semak-semak, seekor kucing hitam yang sekarat tergeletak lemas di atas rumput.
"Eh, ini kau? Kenapa kau sampai terluka parah seperti ini?" Yu Ning mengenali kucing itu.
Kucing hitam kecil ini sebelumnya sempat berjongkok di balkon ruang tamu, lalu dibuang keluar setelah ditemukan oleh pengawal. Baru sebentar saja, bagaimana bisa kucing ini terluka separah ini?
"Jangan-jangan, kucing liar yang mencakar Yu Zihan adalah kau?"
"Meong!" Memang kenapa kalau iya! Dengan sisa tenaga terakhirnya, kucing hitam itu membuang muka dengan angkuh.
Detik berikutnya, tengkuknya yang malang dicengkeram oleh Yu Ning.
"Pasti Wu Yan yang memukulmu sampai begini, kan? Dia memang sangat suka memukul orang. Waktu kecil, aku dipukuli setiap hari olehnya. Untung saja nyawaku cukup kuat sehingga aku tidak mati dihajar." Yu Ning mengeluarkan sapu tangan, lalu dengan lembut membersihkan tanah dari tubuh si kucing.
Sentuhan jari Yu Ning pada tubuhnya membuat si kucing meronta hebat.
"Jangan-jangan ini luka dalam?" Yu Ning mengernyit, lalu mengangkat kucing itu ke depan wajahnya untuk mengamati.
"Biar kulihat apakah kau masih bisa diselamatkan—eh?"
Yu Ning mengamati kucing itu cukup lama. Di bawah tatapan penuh harap dari si kucing, ia mendekatkan mulutnya ke telinga kucing itu dan berbisik, "Kau... bukan kucing liar."
"Meong!!!"
"Kau adalah seekor... kucing peliharaan!"
"???"
Yu Ning mengangguk puas. Lihat betapa senangnya si bulu, ekspresinya sampai bengong begitu. Ia benar-benar melihat ekspresi bengong pada seekor kucing.
"Kau pasti terpisah dari pemilikmu, ya? Lihat tampangmu yang lugu ini, sudah jelas kau kurang punya kemampuan bertahan hidup di alam liar. Kalau dibiarkan di luar, kau tidak akan bertahan beberapa hari lagi. Tapi tenang saja, kau beruntung bertemu denganku. Aku tidak akan membiarkanmu mati."
Yu Ning merasa makhluk kecil ini memiliki tatapan yang bijak dan berjodoh dengannya. Ia melepas mantelnya, membungkus si kucing hitam, lalu mendekapnya dan membawanya kembali ke kamar.
Setelah kembali, barulah ia menyadari bahwa luka kucing ini jauh lebih parah dari dugaannya. Ibu dan anak Wu Yan benar-benar bertindak kejam. Kucing itu terus muntah darah dan pingsan, hingga mantel Yu Ning basah karenanya.
"Untung saja guruku meninggalkan banyak harta karun untukku. Pil Ungu Penambah Roh tingkat lima yang sulit dicari di luar sana, aku punya satu botol penuh. Kucing makan setengah butir, Presiden Lin makan setengah butir. Tunggu sampai Presiden Lin sadar, nanti aku suruh dia mengganti rugi. Presiden Lin mengeluarkan uang untuk menyelamatkan kucing demi mengumpulkan kebajikan, aku pun tidak rugi. Ini yang namanya menang di kedua sisi..."
Yu Ning menggeledah kotak obatnya dan mengeluarkan sebutir pil. Pil berwarna ungu pucat itu hanya seukuran kuku. Khawatir kucing itu tidak kuat menahan efek obat yang kuat, Yu Ning membagi pil itu menjadi empat bagian.
Ia menyuapkan satu bagian ke mulut kucing itu, merendam satu bagian lagi ke dalam baskom air untuk memandikannya. Sisanya tidak ia buang, melainkan dimasukkan ke mulut si "sayur" yang terbaring di ranjang. Entah sakit atau tidak, yang penting bisa untuk menjaga kesehatan, toh tidak akan membuatnya mati.
***
Kucing kecil yang tadinya hanya mampu menarik napas itu perlahan pernapasannya menjadi stabil. Ia meringkuk di dalam tumpukan pakaian, gemetar sedikit, lalu tertidur pulas.
Yu Ning mengeluarkan ponselnya, memesan jasa kurir untuk membeli perlengkapan hewan peliharaan, mulai dari tempat tidur, makanan, hingga bak pasir. Perlengkapan hewan tidaklah murah, ia menghabiskan ratusan ribu untuk semuanya. Bahkan biaya kurirnya saja sampai 200 ribu!
Vila keluarga Lin terletak di lereng gunung, sudah sangat beruntung jika ada kurir yang mau datang. Melihat saldo di kartunya yang hanya tersisa beberapa ratus ribu, hati Yu Ning terasa perih. Ia benar-benar miskin. Memelihara kucing ini membuat hidupnya yang sudah melarat menjadi semakin sengsara.
Teringat Wu Yan yang masih berutang 5 juta uang kompensasi pernikahan pengganti, Yu Ning membuka aplikasi pesan singkat dan mengirimkan tagihan.
"Dia benar-benar memblokirku..."
Yu Ning mengernyit. Sepertinya ia harus mencari kesempatan untuk turun gunung menagih utang, sekaligus mencari pekerjaan sampingan. Bagaimanapun, sekarang ia adalah orang yang harus menghidupi peliharaan.
Tiga jam kemudian, kurir datang mengantarkan barang. Kepala pelayan, Bibi Wu, secara pribadi membawakan barang-barang itu ke lantai atas. Bersamanya, ada juga Jia Qingqing.
"Nona Qingqing, Nyonya Besar sudah berpesan, Anda tidak diperbolehkan naik ke lantai tiga," ingatkan Bibi Wu.
"Si kampungan itu—Yu Ning saja boleh tinggal di sini, masa aku melihat saja tidak boleh? Aku harus memastikan dia tidak melakukan apa-apa pada Kak Lin!" Jia Qingqing menatap Bibi Wu dengan tatapan jijik. Saat nanti ia menikah dengan Kak Lin, hal pertama yang akan dilakukannya adalah membuang pelayan tua yang sok berkuasa ini.
"Sebaiknya Anda segera turun sebelum Nyonya Muda menyadarinya," ucap Bibi Wu dingin. Ia hanya mengakui para tuan muda keluarga Lin yang sah, siapa pula Jia Qingqing ini?
"Kau pikir aku takut padanya? Dia itu hanyalah gadis kampungan yang tidak tahu dunia dan punya tenaga seperti kerbau—" Ucapan sombong Jia Qingqing terhenti.
Yu Ning sedang menggotong sebuah ranjang kecil dan berjalan dengan santai di koridor. Dengan tinggi 168 cm dan tubuh yang ramping, ia mampu mengangkat ranjang kayu solid sendirian! Kekuatan macam apa itu!
Jia Qingqing ternganga, Bibi Wu pun terkejut bukan main.
"Nyonya Muda! Kalau mau memindahkan ranjang, panggil saja saya, biar saya carikan orang!"
"Tidak apa-apa, tidak berat kok—paketku sudah sampai ya, tolong bantu masukkan ke kamar." Yu Ning membawa ranjang itu ke kamar Lin Zheng.
"Sebaiknya Anda segera turun. Tendangan Nyonya Muda tadi sepertinya sudah ditahan, kalau saja..." Bibi Wu menggelengkan kepala. Ranjang kayu seberat 100 kilogram lebih saja diangkat dengan mudah. Kalau benar-benar ingin menghajar Jia Qingqing, bukan hal mustahil baginya untuk membuat Jia Qingqing sampai tidak bisa mengurus diri sendiri.
"Jangan-jangan dia dulunya atlet angkat besi?" Jia Qingqing merasa takut pada kekuatan super alami Yu Ning. Namun, karena tujuannya belum tercapai, ia tidak mau pergi begitu saja. Ia pun memberanikan diri mengikuti Bibi Wu masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana bisa kau tidur sekamar dengan Kak Lin!" Jia Qingqing berteriak seperti ayam disembelih saat melihat Yu Ning meletakkan ranjang kecil itu di samping ranjang Lin Zheng. Kecemburuan membuat wajahnya terdistorsi.
"Agar mudah merawatnya."
Nenek buyut memang sudah menyiapkan kamar untuk Yu Ning di sebelah, tapi Yu Ning sudah mencobanya dan kedap suara di rumah ini terlalu bagus. Jika ada roh yang datang, ia tidak akan bisa mendengar lonceng pemanggil roh dari kamar sebelah. Kamar Presiden Lin sangat luas, menambah satu ranjang lagi pun bukan masalah.
"Kau benar-benar tidak tahu malu! Pria dan wanita, bagaimana bisa dalam satu kamar! Singkirkan ranjang itu!" Jia Qingqing menghentakkan kaki.
Yu Ning malas meladeni, ia mengambil tas dari tangan Bibi Wu dan mengeluarkan isinya. Untuk tempat tidur kucing, ia memilih bentuk pisang berwarna kuning yang harganya lebih dari seratus ribu. Ia meletakkan si kucing hitam yang sedang tidur pulas ke dalam tempat tidur itu. Perpaduan kucing hitam di atas tempat tidur pisang kuning memberikan efek visual yang luar biasa.
Yu Ning mengangguk puas. Hitam bertemu kuning, sungguh kombinasi yang indah.
"Kau benar-benar memelihara kucing liar di kamar Kak Lin!!!" Jia Qingqing kembali menjerit.
"Bak pasir—sudah ada!" Yu Ning mengeluarkan bak pasir kecil, menuangkan pasirnya, lalu menghitung posisinya. "Pintu masuk adalah posisi keberuntungan, bak pasir tidak boleh di sana... Barat Daya dan Tenggara bertabrakan dengan nasib kucing, Barat menurut lima elemen adalah logam, logam menaklukkan kayu. Hmm, taruh di kamar mandi saja, fengshuinya bagus."
"Apakah memelihara kucing juga ada fengshuinya?" tanya Bibi Wu penasaran. Tuan Muda paling tidak suka hewan berbulu, jika ia tahu ada kucing di kamarnya saat sadar nanti, ia pasti akan sangat marah. Namun, melihat Nyonya Muda bicara dengan begitu meyakinkan, ia jadi penasaran.
"Ya, kucing menurut lima elemen adalah kayu. Yin, Wu, dan Xu membentuk harmoni, shio kuda, anjing, dan babi sangat cocok memelihara kucing karena bisa meningkatkan keberuntungan. Terutama shio babi yang memelihara kucing hitam, fengshuinya luar biasa bagus."
Bibi Wu tiba-tiba sadar. "Nyonya Muda bershio babi?"
"Bukan."
"......?"