Bab 30: Semoga Kencanmu Menyenangkan
Halaman (1/3)
Lin Jiawu menerima gelang itu dengan gembira. Karena suasana hatinya sedang baik, sikapnya pun tampak sangat murah hati.
Ia membiarkan Jiang Yun memainkan pergelangan tangannya, lalu berkata seolah-olah tidak sengaja, “Terima kasih sudah memberiku hadiah, Sayang.”
Sore tadi, Jiang Yun baru saja membicarakan soal “hadiah” itu kepada Cheng Shuang. Kini, ketika mendengarnya dari mulut Lin Jiawu, Cheng Shuang yang tidak bodoh segera memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Entah Jiang Yun membawakan hadiah untuk mereka berdua, atau hadiah itu memang diberikan kepada Lin Jiawu.
Perempuan yang sedang jatuh cinta memang selalu suka memperhitungkan segala hal.
Perbedaan sekecil apa pun dapat menimbulkan kekecewaan besar di hatinya. Cheng Shuang dibesarkan dengan penuh kemanjaan dan tidak pernah mengalami banyak kesulitan. Sebagai bunga yang tumbuh di rumah kaca, mana mungkin ia memahami arti penyamaran? Begitu melihat Jiang Yun bersama Lin Jiawu, ia langsung menunjukkan wajah masam.
“Wah,” ujar Lin Jiawu. Dari sudut matanya, ia melihat Cheng Shuang, tetapi pandangannya tetap tertuju lurus kepada Jiang Yun. Nada bicaranya terdengar seperti sedang membahas urusan bisnis. “Sepertinya dia tidak sengaja melihatnya.”
Jiang Yun mengangkat alis. “Tidak sengaja?”
Mengingat semua yang dilakukan Lin Jiawu belakangan ini, Jiang Yun punya alasan kuat untuk mencurigai bahwa semua ini memang telah direncanakan olehnya—menghalangi jalan orang, memilih lift, lalu sengaja membiarkan dirinya terlihat.
Namun sekarang, perempuan itu justru memasang wajah seolah-olah tidak tahu apa-apa, membuat Jiang Yun merasa gatal ingin mengertakkan gigi.
“Kenapa bukan tidak sengaja?” Lin Jiawu tersenyum.
Jiang Yun menyipitkan mata. “Kau sudah menggangguku.”
Hubungan mereka sejak awal hanyalah kerja sama. Dalam sebuah kerja sama, kedua pihak seharusnya tidak saling mengganggu. Setidaknya, Jiang Yun tidak mengizinkan Lin Jiawu bertindak semaunya. Untuk perkara kecil, ia masih bisa memakluminya. Namun jika perempuan itu menghalangi kepentingannya, ia tidak keberatan memutuskan hubungan.
“Aku tahu.” Lin Jiawu dapat melihat pikiran Jiang Yun yang sebenarnya hanya dengan sekali pandang. Perlahan, ia meletakkan satu tangan di bahu Jiang Yun, lalu berkata dengan nada lembut, “Tapi demi hadiah yang membuatku senang ini, aku akan membantumu sekali, Sayang.”
Jiang Yun menjadi tertarik. “Oh?”
Nada suara Lin Jiawu terdengar sedikit muram, wajahnya tampak menyedihkan. “Siapa suruh kau berpaling dan berselingkuh?”
Jiang Yun tahu perempuan itu sedang berakting, tetapi hatinya tetap tak urung terusik. Ia merasa semua ini menarik. Lin Jiawu benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya. Di atas sifat dasarnya yang dahulu, kini terpancar aura yang benar-benar menjadi miliknya.
Halaman (1/3)
Ia memang seorang penipu.
Di hadapannya, perempuan itu menyamar dan berakting seperti aktris yang terlahir secara alami. Bahkan Jiang Yun pun harus mengakui keunggulannya.
“Kau memberiku hadiah, jadi aku juga akan memberimu hadiah.” Lin Jiawu tersenyum.
Sebelum Jiang Yun sempat memahami maksudnya, Lin Jiawu tiba-tiba menoleh. Ia tampak seperti baru saja “menyadari” keberadaan Cheng Shuang pada detik itu juga, dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
“Nona Cheng.” Nada suara Lin Jiawu terdengar datar. Pesona manja yang tadi ia gunakan saat berbicara dengan Jiang Yun telah menghilang, digantikan nada yang samar-samar menunjukkan klaim atas wilayahnya. “Selama ini kukira siapa pun yang punya akal sehat pasti bisa memahami perkataanku saat pertama kali kita bertemu. Seseorang harus tahu diri. Aku memegang surat nikah yang diakui hukum. Aku adalah istri sah, sedangkan kau adalah pelakor. Kecuali kau memang tahu bahwa dirimu orang ketiga, tetapi tetap tidak tahu malu dan bersikeras menawarkan diri demi merebut suamiku.”
“Apa katamu?” Kecemburuan dalam hati Cheng Shuang meledak saat itu juga.
Seseorang tidak boleh dipancing, terutama bunga yang tumbuh di rumah kaca. Sejak kecil hingga dewasa, hidup Cheng Shuang selalu berjalan mulus. Kini, tiba-tiba muncul seseorang yang menentangnya. Cheng Shuang merasa dirinya memang kalah secara moral, tetapi ia tidak terima harus kalah dari perempuan tanpa status seperti Lin Jiawu. Latar belakang Lin Jiawu yang rendah membuatnya merasa jijik.
Terpancing oleh ucapan itu, Cheng Shuang mengertakkan gigi dan menyerang dengan kata-kata tanpa memedulikan apa pun. “Sebenarnya siapa yang menawarkan diri? Keluarga kami dan keluarga Jiang setara. Kedua keluarga juga saling berhubungan sebagai rekan bisnis. Perempuan sepertimu yang hanya tahu cara naik ke ranjang, apa hakmu mengataiku?”
Sebelum Cheng Shuang menyelesaikan ucapannya, Lin Jiawu sudah berjalan ke arahnya.
Sebelum pergi, ia berkata dengan suara sangat pelan, hanya cukup terdengar oleh Jiang Yun, “Sayang, aku akan memberimu kencan berjudul ‘sepasang kekasih akhirnya bersatu’.”
“Beli satu, dapat satu. Sekalian memberimu kesempatan untuk menjadi pahlawan yang menyelamatkan gadis cantik,” bisiknya.
Setelah itu, Lin Jiawu berjalan tepat di hadapan Cheng Shuang dan menamparnya.
Tamparan yang dilayangkan ibu Cheng kepadanya di rumah sakit harus ia kembalikan kepada Cheng Shuang.
Lin Jiawu menamparnya dengan sangat keras tanpa menyisakan belas kasihan. Karena ia hendak membalas tamparan itu, tentu saja ia tidak akan menahan diri. Dalam sekejap, pipi Cheng Shuang membengkak. Lin Jiawu berkata tanpa ekspresi, “Nona Cheng, masing-masing orang menunjukkan kemampuannya sendiri.”
Tamparan itu membuat Cheng Shuang kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung beberapa langkah, lalu menutupi wajahnya dengan tangan, tak percaya telah dipukul. Secara naluriah, ia mengangkat tangan hendak bergulat dengan Lin Jiawu, tetapi Jiang Yun bergerak cepat dan menangkap tangannya.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
“Aku tidak mau.” Cheng Shuang menangis. “Dia benar-benar memukulku.”
Lin Jiawu berkata, “Memangnya tidak boleh? Kudengar, keluarga lain biasanya menelanjangi pelakor lalu membuangnya ke tengah jalan.”
Tangis Cheng Shuang berubah menjadi isak yang menyakitkan. Bukan hanya karena pipinya terasa panas dan perih, tetapi juga karena setiap kali Lin Jiawu menyebut kata “pelakor”, kata-kata itu seolah menusuk tepat ke jantungnya.
Halaman (2/3)
“Apa aku salah? Kau memang pel—” Lin Jiawu masih hendak menambahkan serangan terakhir.
“Cukup.”
Jiang Yun melindungi Cheng Shuang. Wajahnya semakin muram saat menatap dingin Lin Jiawu. Ia memutuskan hubungan itu dengan sikap yang tampak sepenuhnya beralasan.
“Lin Jiawu, kau sudah keterlaluan.”
Dengan demikian, Jiang Yun membawa Cheng Shuang pergi tanpa hambatan.
Persis seperti yang dikatakan Lin Jiawu, sebuah sandiwara tentang pahlawan yang menyelamatkan gadis cantik.
Namun, saat pergi, Jiang Yun seolah benar-benar marah. Ia menegur Lin Jiawu, “Kalau kau tidak punya pekerjaan, diam saja di rumah. Jangan keluar lagi.”
Lin Jiawu memperhatikannya membawa Cheng Shuang masuk ke mobil, lalu berdiri di tempat sambil terus menatap mereka.
Ia merenungkan baik-baik wajah Jiang Yun yang tadi tampak murka. Seberapa banyak yang sungguh-sungguh, dan seberapa banyak yang hanya pura-pura?
[Sayang, semoga kencanmu menyenangkan.]
Setelah menerima pesan itu, Jiang Yun menghapus Lin Jiawu dari kontaknya.
Bagus sekali. Perempuan itu bahkan menjadikannya pisau untuk menagih kembali urusan tamparan ibu Cheng kepadanya.
Lin Jiawu memang seperti rubah penggoda. Jiang Yun mengakuinya. Kali ini ia terlalu gegabah sampai masuk ke dalam perangkapnya.
Seorang pria jarang mengalami kerugian dalam hal semacam ini. Karena itu, kerugian yang sesekali dialaminya justru cukup untuk meninggalkan kesan mendalam—begitu mendalam sampai ia melupakan bahwa wajah Cheng Shuang telah membengkak seperti bakpao, dan bahkan lupa menenangkan perempuan itu.
Sekali lagi, seluruh perhatiannya terpusat pada Lin Jiawu.
Halaman (3/3)