Bab Satu: Tubuh Pengemis
Di tengah malam yang kelam, seorang pemuda bertubuh sedang yang mengenakan pakaian hitam penuh noda tanah melangkah gontai menyusuri jalanan mewah. Pakaiannya yang kotor tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Seorang wanita tua bertubuh tambun dan pendek yang mengenakan gaun mewah melihat paras pemuda itu. Ia menghampirinya dengan penuh percaya diri dan berkata, "Hai pemuda tampan, karena kau terlihat menarik, aku akan berbaik hati. Jadilah pelayan priaku, aku akan memberimu seratus ribu sebulan."
Pemuda itu bahkan tidak mendongak, ia menjawab dengan dingin, "Enyahlah."
Wanita bangsawan itu tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. Ia mencibir dan berkata lagi, "Pemuda tampan, hari ini aku sedang senang. Aku beri kau satu kesempatan lagi. Jika kau bisa menyenangkan hatiku, apa pun bisa kudapatkan untukmu."
Pemuda itu mengangkat kepalanya. Di balik wajahnya yang rupawan, ia memutar bola mata dengan ekspresi datar lalu berkata, "Pernahkah kau mendengar bahwa orang miskin tidak boleh kehilangan harga diri, dan orang kaya tidak boleh serakah?"
Wanita itu tertegun sejenak, tak mampu berkata-kata.
Pemuda itu melanjutkan, "Dasar buta huruf. Kau bahkan tidak lebih baik dari seorang pengemis. Kau tidak pernah membaca kitab kebajikan, juga tidak punya tata krama. Apa kau benar-benar bagian dari masyarakat kelas atas?!"
Setelah mengatakan itu, ia menghilang begitu saja.
Wajah wanita bangsawan itu seketika memucat, dipenuhi rasa teror yang luar biasa.
Saat itu, seorang wanita bangsawan lain yang tidak menyukainya mendekat dan menyindir dengan nada sinis, "Aduh, Nyonya Lin Xiaofang, bagaimana kau bisa begitu ceroboh? Kau baru saja menyinggung seorang pengguna kekuatan supranatural. Kurasa suamimu tidak akan bisa melindungimu lagi. Apalagi hari ini kau terang-terangan menyelingkuhinya, dia pasti tidak akan membelamu lagi."
Wajah wanita itu semakin muram. Ia membalas dengan dingin, "Urus saja dirimu sendiri, Wang Baozhu. Bagaimana kabar suamimu, Xu Ergou, yang mencari wanita simpanan dan ingin menceraikanmu itu?"
Wajah keduanya menghitam bagaikan pantat panci. Jika dilihat dari jauh, mereka tampak seperti dua orang dari Afrika, dan jika ditambah sedikit polesan, mereka akan terlihat persis seperti pasta gigi hitam!
Di sudut sebuah gedung, sekelompok pengemis tinggal di sana. Seorang pengemis tua menghela napas, "Zaman macam apa ini?! Aku tidak mendapatkan satu sen pun! Aku sudah lapar selama empat hari! Empat hari!!!"
Pengemis lain meratap dengan lemah, "Siapa yang bisa menolongku? Tadi saat aku mengemis, seorang kaya memotong kakiku. Siapa yang punya obat?!"
Pengemis tua lainnya berkata dengan sedih, "Berapa harga nyawa kita? Tempat tinggal kita bahkan tidak lebih baik dari kandang burung di kawasan elit!"
"Benar-benar pepatah yang tepat: di balik pintu gerbang orang kaya tercium bau daging dan anggur, sementara di jalanan tergeletak tulang-belulang orang mati karena kedinginan!"
"Tidurlah, tidurlah. Besok kita harus kembali mengais tempat sampah untuk mengemis."
"Hah, tidurlah. Bermimpilah menjadi kenyang dan puas."
Setelah para pengemis itu tertidur, pemuda berbaju hitam keluar dari balik bayang-bayang gedung. Ia sudah berada di sana sejak para pengemis itu berbicara, namun ia merasa terlalu pedih untuk menampakkan diri. Matanya terpejam rapat, hanya batu yang hancur menjadi bubuk di genggamannya yang menunjukkan betapa hancur hatinya.
Tiba-tiba, sesosok bayangan melintas. Sebuah jarum suntik menusuk tengkuk pemuda itu, dan sebelum ia sempat bereaksi, ia pun jatuh pingsan.