Bab Enam: Tidak Punya Uang, Tidak Ingin Membelanjakannya
Maksudnya sangat sederhana, hanya satu kalimat: tidak punya uang dan tidak mau membelanjakan uang!
Bagi Gu Yunzhou, perkataan itu terdengar berbeda. Ia menganggap ini hanyalah taktik baru wanita itu untuk menarik perhatian dengan cara berpura-pura mundur. Dia pikir wanita ini sekarang mulai bermain tarik-ulur, tetapi jangan harap dia akan meliriknya lebih lama karena hal itu.
Dia berbisik kepada Jiang Xueer, "Xueer, besok aku pasti akan meraih juara pertama."
Meski dikatakan dengan berbisik, sebenarnya semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Ucapan ini merupakan pernyataan sikapnya yang tegas.
Wajah Jiang Xueer baru terlihat sedikit lebih baik. Dengan lembut ia berkata, "Ya, semangat ya!"
Gu Yunzhou mengusap puncak kepala Jiang Xueer dengan penuh kasih sayang, lalu melirik ke arah Pei Fei tanpa disadari, matanya berhenti sejenak.
Di dekat sana, Pei Fei sedang menunduk mengupas nangka. Ia bahkan tidak menggunakan pisau, cukup dengan tangan kosong ia bisa membukanya. Ia malah bertanya pada Yun Cheng di sebelahnya apakah mau makan atau tidak, sama sekali tidak melirik ke arah Gu Yunzhou.
Bukan salahnya juga, dia belum makan apa pun sejak pagi. Kondisinya sekarang berbeda dari dulu; jika dulu tidak makan pun dia tidak akan merasa lapar, tetapi sekarang tidak bisa begitu, dia merasa hampir mati kelaparan!
Dia menyodorkan nangka itu kepada Yun Cheng dan terus menatapnya. Melihat pria itu tidak kunjung memakannya, dia mendesak, "Cepat dimakan."
Tidak ada alasan lain, dia sendiri tidak bisa memakan nangka itu sebelum melihat Yun Cheng menghabiskan satu potong dengan utuh.
Kali ini dia bahkan tidak mendongak sedikit pun. Kemesraan antara Gu Yunzhou dan Jiang Xueer sama sekali tidak ia perhatikan.
"Pei Fei, bisakah kau tidak bertingkah seperti orang yang belum makan selama bertahun-tahun?"
Rong Zhen mengerutkan kening. Meski mulutnya mengeluh, dia sebenarnya melangkah maju hendak mengambil nangka yang sudah dikupas oleh Pei Fei, tetapi tangannya ditepis oleh Pei Fei. Wanita itu justru menyodorkan bagian yang belum dikupas kepadanya.
Maksudnya sangat jelas: kalau mau makan, kupas sendiri.
Tentu saja Rong Zhen tidak senang. "Kenapa Yun Cheng bisa makan yang sudah dikupas, sedangkan aku harus mengupasnya sendiri?"
Dia memprotes perlakuan berbeda Pei Fei dengan tatapannya, apalagi saat Yun Cheng menatapnya dengan wajah polos, benar-benar membuatnya kesal.
Pei Fei baru mendongak, lalu mengedipkan mata dan berkata dengan nada serius, "Ada pepatah yang mengatakan, hasil kerja keras sendiri adalah yang terbaik."
[Astaga, pepatah itu memang benar, tapi rasanya tidak cocok saat diucapkan kepada Dewa Kekayaan Rong.]
[Sudah kelihatan, kecerdasan emosional Pei Fei sangat rendah. Kenapa dia tidak segera mencari perlindungan dari orang berpengaruh?]
[Dia tidak punya niat buruk pada putraku, kan? Nak, jangan sampai tertipu oleh kebaikan kecil seperti ini!]
[Meskipun Pei Fei berusaha keras menahan perasaannya pada Gu Yunzhou, dengan pengamatanku yang tajam, aku bisa melihat ini hanyalah taktik tarik-ulur.]
...
Rong Zhen dibuat tertawa olehnya karena kesal. Ia menunjuk ke arah Yun Cheng, "Dia tidak perlu repot mengupas sendiri."
"Dia masih kecil," jawab Pei Fei sambil terus makan.
Rong Zhen merasa tersinggung. Sebagai pria berusia dua puluh delapan tahun yang sedang berada di puncak karier di dunia hiburan, apakah dia perlu memedulikan soal usia?
Tang Yu, yang mengira Rong Zhen benar-benar ingin makan, mengupas sisanya dan memberikannya kepada pria itu. Namun, Rong Zhen tidak memperhatikannya dan justru mendengus ke arah Pei Fei lalu pergi. Ekspresi Tang Yu sedikit kaku, namun karena sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia akting, ia segera kembali normal dan tersenyum memberikan nangka itu kepada Jiang Xueer dan Gu Yunzhou yang masih bermesraan.
Malam semakin larut, penonton di ruang siaran langsung pun semakin berkurang, hanya tersisa beberapa orang saja. Vila itu sangat sunyi, bahkan staf di balik layar sudah menguap berkali-kali bersiap untuk pulang, ketika tiba-tiba muncul bayangan kecil di layar.
Meskipun lampu vila dimatikan, semua kamera dilengkapi dengan penglihatan malam untuk memastikan kualitas rekaman. Sosok itu terlihat jelas, dan tidak lain adalah Pei Fei.
Dia menggeledah isi vila, lalu memasukkan sesuatu ke dalam sakunya dan berlari naik ke lantai atas.
Beberapa orang yang masih terjaga di ruang siaran langsung seketika bersemangat. Ini adalah kesempatan mereka untuk mencari kesalahan.
[Tengah malam tidak tidur, pasti ada niat tersembunyi.]
[Dengan mata tajamku, aku yakin yang dia ambil tadi adalah korek api.]
[Sepertinya dia ingin merokok diam-diam. Benar saja, artis bermasalah dan tidak populer, pantas saja kariernya hancur!]
[Wanita ini mencari perhatian lagi, takut sekali kalau orang-orang tidak membencinya.]
Meskipun jumlah penonton sedikit, semangat mereka untuk menghujat sangat besar. Meski belum tahu apa yang sebenarnya dilakukan Pei Fei, mereka sudah mulai melontarkan cacian.
Kamera di kamar Pei Fei belum dimatikan. Tak lama kemudian, terlihat dia masuk ke kamarnya, mengeluarkan kantong plastik hitam dari kopernya, lalu mengeluarkan beberapa kartu dari tasnya, yakni KTP dan kartu bank warna-warni, lalu menatanya dengan rapi di lantai.
Penonton di ruang siaran langsung terdiam, tidak menyangka dia merokok saja begitu repot. Mereka terus merekam layar dengan rencana untuk menyebarkannya besok.
Dia memegang kantong plastik hitam itu, lalu dengan misterius mengeluarkan deretan patung kayu kecil dan beberapa batang dupa. Dengan lihai, dia mengambil korek api dari sakunya dan menyalakan dupa tersebut dengan wajah sangat serius. Dia menggumamkan sesuatu, namun karena suaranya pelan, tidak terdengar jelas apa yang dikatakannya.
Penonton di ruang siaran langsung merasa aneh. Bukankah tadi katanya mau merokok? Apa yang dia lakukan? Sembahyang?
Mereka tidak paham apa yang diminta sampai-sampai harus menyembah deretan patung dewa itu.
Tak lama kemudian, rasa penasaran mereka terjawab.
Terlihat Pei Fei selesai bersujud, lalu mengambil kartu-kartu bank warna-warni di lantai, melambaikannya ke arah patung-patung itu, dan berbisik dengan nada serius, "Ingat, ini kartu-kartunya, jangan sampai salah kasih."
Setelah bersujud beberapa kali lagi, dia segera membereskan semuanya dan tidur dengan perasaan puas.
Pikirannya sangat sederhana, semakin banyak dia berdoa, pasti salah satu akan terkabul.
Penonton di ruang siaran langsung seketika paham apa yang sedang terjadi.
Meminta kekayaan!
Mereka tidak menyangka seorang selebritas wanita di tengah malam bukannya tidur, malah menempuh cara aneh dengan menyembah patung untuk meminta uang!
Kolom komentar sempat kosong sejenak, lalu seketika dipenuhi oleh pesan baru.
[Palsu, pasti palsu. Dia pasti sebenarnya berdoa minta jodoh, taktik kecil ini sudah terbaca!]
[...Sulit berkomentar. Dengan kariernya di dunia hiburan selama ini, apa dia masih kekurangan uang? Hanya akting saja, bubar saja.]
[Apakah ini sedang membangun citra orang miskin?]
[Bukan begitu, siapa yang mengajarinya berdoa seperti itu? Kenapa tidak mengajari saya?]
[Setelah kucoba hitung, doa yang dipanjatkan tidak akan ada yang terkabul~]
[Tengah malam tertawa terlalu keras sampai dipukul ibu, Pei Fei, bagaimana kau akan mengganti kerugianku?]
Dalam sekejap, ruang siaran langsung itu dipenuhi oleh ejekan dan lelucon, menjadi pesta bagi para pembenci.
Masih banyak orang yang terjaga, dan tak lama kemudian topik "#Kejutan, Pei Fei berlutut sepanjang malam!!" langsung meroket ke daftar tren hiburan.