6. Menuju Gua Bawah Tanah, Bertemu Kenalan Secara Tak Sengaja
Halaman 1 dari 3
Kekuatan Lin Fan melesat naik tanpa preseden. Ia sudah tidak lagi memandang sebelah mata reruntuhan dan tempat-tempat rahasia yang sejak lama telah dijelajahi orang dan tingkat bahayanya pun sudah ditetapkan dengan jelas.
Bagi dirinya sekarang, semua itu tak lebih dari permainan anak kecil. Maka sasaran yang ia tuju langsung adalah gua bawah tanah.
Di Bintang Biru, gua bawah tanah bukanlah hal yang langka.
Hanya di Negeri Naga saja, ada beberapa buah.
Dan setiap pintu masuknya terhubung dengan dunia gua bawah tanah yang tampaknya berbeda-beda, ada yang besar ada yang kecil; lingkungannya pun tak sama, ada yang suram gulita, ada pula yang hijau permai.
Ia memilih dunia gua bawah tanah nomor tiga.
Sebab pintu masuk dunia gua bawah tanah nomor tiga paling dekat dengan ibu kota, selain itu, ada satu hal lagi: lingkungan di dalam gua ini juga yang terbaik di antara ketiga gua itu.
Barulah pada sore hari,
Lin Fan tiba di pintu masuk gua bawah tanah.
Yang tampak di matanya adalah sebuah kota baja yang megah.
Ia pun melintasi pintu masuk di pusat kota baja itu dengan lancar, lalu memasuki gua bawah tanah—dunia milik para binatang buas.
Di dalam sana tentu juga ada sebuah kota agung, dijaga pasukan yang mengawal pintu keluarnya, agar para binatang buas di dalam tidak menerobos keluar; tempat itu ibarat garis pertahanan pertama.
“Lin Fan dari Kelas Jalan Langit?”
Begitu muncul, seorang perempuan tinggi ramping berkacamata langsung berjalan mendekat. Ia mengenakan seragam militer; dari pangkatnya, ia tampak hanya seorang letnan dua.
Jelas ia datang untuk menyambut Lin Fan.
Tentu saja.
Tidak semua orang yang datang ke sini untuk berlatih layak disambut oleh seorang perwira.
“Benar, perwira.” Lin Fan mengangguk.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya perwira wanita itu sambil tersenyum.
“Bagaimana keadaan di sini belakangan ini?”
Lin Fan juga tidak berpanjang kata. Sambil berjalan masuk ke kota bersamanya, ia langsung menanyakan situasi di tempat itu.
“Belakangan ini masih cukup tenang.”
“Namun beberapa waktu lagi, belum tentu.”
“Oh? Maksudnya?”
Lin Fan menampakkan rasa ingin tahu.
“Menurut laporan terbaru yang dibawa para prajurit pengintai, Klan Siluman Rubah belakangan ini makin sering dan makin erat berhubungan dengan beberapa kelompok siluman binatang lainnya. Bisa jadi, setahun dua tahun lagi, tempat kita ini sudah mulai perang lagi.” Perwira wanita itu menghela napas, lalu mengangkat bahu dan tersenyum.
Mengetahui ada binatang buas yang hendak memulai perang, namun masih bisa tersenyum tanpa banyak cemas atau takut, tentu karena manusia sekarang sudah cukup kuat.
“Makhluk-makhluk itu selalu ingin keluar untuk menikmati dunia luar yang lebih luas, jadi mereka tak pernah berhenti menguji kita. Perang kecil tiap lima tahun, perang besar tiap sepuluh tahun, itu hal yang wajar. Tapi tak perlu kau khawatir, dalam beberapa bulan ke depan pasti aman.” Perwira wanita itu tersenyum dan berkata.
Para binatang buas pada dasarnya sudah terpecah-pecah, bahkan ada yang merupakan musuh bebuyutan. Sekalipun gerombolan rubah licik itu ingin menghimpun beberapa ras untuk memulai perang, itu bukan perkara mudah; dalam waktu singkat mustahil berhasil.
Lagipula, sekalipun berhasil pun tak perlu terlalu dipusingkan, sebab pada saat itu para penjaga gua bawah tanah sudah lama bersiap.
‘Klan siluman rubah, ya?’
Sudut bibir Lin Fan sedikit terangkat.
Di dunia ini, binatang buas sesungguhnya dapat dibagi menjadi dua: siluman dan binatang buas biasa. Siluman bisa berbicara seperti manusia, mirip dengan binatang berekor di dunia ninja.
Siluman rubah ini jelas termasuk jenis itu.
Hal itu membuatnya teringat pada siluman rubah berekor sembilan...
‘Kebetulan juga, ini bisa kuuji: apakah teknik pelarian kayu terhadap para siluman binatang ini juga memiliki daya tekan dan daya kendali seperti terhadap binatang berekor!’
‘Karena siluman rubah begitu suka membuat onar, mengapa kali ini tempat latihan tidak dipilih saja di wilayah Klan Siluman Rubah?’
Halaman 2 dari 3
Lin Fan tak memperlihatkan apa pun di wajahnya,
namun di dalam hati, ia sudah samar-samar memiliki beberapa gagasan.
“...”
Sambil berjalan,
perwira wanita itu menjelaskan dunia ini kepada Lin Fan.
“Kalau untuk berlatih, adakah wilayah yang ingin kamu tuju?” akhirnya ia bertanya demikian.
“Aku ingin mencari daerah tak berpenghuni untuk berlatih.”
“Bisakah kau merekomendasikan satu untukku?”
Tanya Lin Fan.
Sekarang ia hanya ingin melepaskan kekuatannya sepuas hati. Kalau di sekeliling ada orang, ia jadi serba sungkan; itu kan jadi tidak seru.
“Daerah tak berpenghuni?”
Perwira wanita itu memandang Lin Fan dengan heran.
Dunia gua bawah tanah ini memang luas tak bertepi, sementara orang-orang di dalamnya sedikit sekali dan tampak begitu kecil, sehingga amat sulit saling bertemu...
Kenapa masih ada yang mengajukan permintaan seperti ini?
“Ya, daerah sepi tanpa orang.”
“Sebenarnya, aku juga ingin sekalian melatih satu teknik ninja, tapi tidak ingin ada siapa pun yang tahu...” Lin Fan berhenti pada titik itu.
Karena yang dimaksud siapa pun,
maka itu juga mencakup para prajurit pengintai dan semacamnya.
Perwira wanita itu pun langsung paham. “Kalau begitu, tunggu di sini. Aku akan menemui jenderal untuk meminta peta persebaran pasukan pengintai kita untukmu.”
“Kalau orang lain, tentu mustahil. Tapi karena kamu berasal dari Kelas Jalan Langit, seharusnya jenderal akan menyetujuinya.”
Persebaran para prajurit pengintai itu,
ibarat rahasia militer.
Orang biasa mana boleh menanyakannya?
“Kalau begitu, merepotkan perwira!” kata Lin Fan dengan sedikit rasa bersalah.
Ia melakukan ini sebenarnya hanya untuk memastikan wilayah Klan Siluman Rubah, daerah mana saja yang pasti tak berpenghuni. Kalau nanti ia mengerahkan jurus besar dan melukai prajurit pengintai atau semacamnya, tentu tidak baik.
“Duduklah di sana menungguku, paling lama sekitar sepuluh sampai dua puluh menit.” Setelah menunjukkan sebuah tempat kepada Lin Fan, perwira wanita itu pun segera pergi.
Di dunia gua bawah tanah ini, alat komunikasi seperti ponsel dan komputer tidak bisa digunakan, jadi untuk menghubungi seseorang cukup merepotkan.
“...”
Dan di tengah penantian yang panjang itu,
Lin Fan justru melihat seorang kenalan yang sama sekali tak ia duga!
Di gerbang kota tidak jauh dari sana.
Sekelompok orang, ada laki-laki ada perempuan,
sepertinya baru saja kembali dari latihan di luar.
Yang menyambut mereka adalah seorang perempuan yang baru saja masuk gua bawah tanah beberapa saat lalu, tampaknya ia juga rekan mereka; begitu bertemu langsung saling sindir.
“Bagus sekali, aku menyuruhmu membeli perlengkapan di luar, dan yang kau beli cuma barang murahan begini? Kami ini bertaruh nyawa di dalam sana, tahu!”
“Hmph, ada barang yang bisa dipakai saja sudah bagus, masih pilih-pilih!”
“...”
Halaman 3 dari 3
Awalnya Lin Fan juga tidak terlalu memedulikan rombongan itu.
Namun tiba-tiba,
ia seolah mendengar namanya sendiri...
“Apa? Serius? Siapa, sih, sebegitu bodohnya? Menukar pelarian debu dengan pelarian kayu? Apa otaknya sudah kemasukan air?”
“Benar, orang seperti itu bagaimana bisa masuk ke sekolah menengah nomor satu ibu kota?”
“Sepertinya namanya Lin Fan...”
Mendengar sampai sini,
Lin Fan menoleh dan melihat ke sana.
Hatinya tak urung merasa heran...
Ia sama sekali tak menyangka, urusannya ternyata sudah sampai ke dunia gua bawah tanah, sungguh keterlaluan.
“...”
Di antara rombongan itu, hanya ada seorang perempuan yang sejak awal terus mengenakan masker hitam. Tadi ia hanya duduk di sana sambil memejamkan mata dan memulihkan tenaga, dengan santai mendengarkan gosip dari rekan-rekannya...
Namun tak ada yang menyadari,
begitu nama “Lin Fan” disebut...
tatapan perempuan itu tiba-tiba mengeras!
Dan seketika itu juga,
seluruh raut wajahnya berubah total!!
Lin Fan awalnya juga tidak memperhatikan perempuan yang menutupi diri rapat-rapat dengan masker itu, yang tampak seperti sosok tak berarti. Namun tanpa sengaja, ia merasakan niat membunuh dari tubuhnya, meski niat itu bukan ditujukan kepadanya.
Ia pun menoleh ke arah perempuan itu,
dan justru pada saat itulah, ia mengenali perempuan tersebut. Bersamaan dengan itu, seluruh ingatan tentang dirinya pun langsung menyeruak ke benak Lin Fan!
Namanya Li Yu.
Usianya kira-kira dua puluh tiga atau dua puluh empat.
Dulu, setelah orang tua Lin Fan meninggal dan ia hampir menjadi pengemis di kota kecil yang terpencil itu, justru Li Yu yang datang dan mulai mengubah hidupnya!
Perempuan itu mengaku sebagai bibi pihak ibunya, dan mengatakan bahwa mulai saat itu ia yang akan merawatnya.
Namun ketika itu Lin Fan sudah berusia dua belas tahun, tentu ia tahu ibunya tidak punya saudara perempuan. Tetapi demi bertahan hidup, ia tidak menolak.
Barulah kemudian ia mengetahui,
Li Yu pernah diselamatkan nyawanya oleh ibunya di medan perang.
Berkat Li Yu pula, ia bisa bersekolah dan belajar, lalu mendapat kesempatan untuk terdeteksi memiliki kekuatan spiritual yang sangat tinggi, sehingga akhirnya ia bisa datang ke ibu kota, masuk ke sekolah menengah terbaik di negeri ini, masuk kelas terbaik, dan bergabung dengan departemen paling istimewa milik negara—Kelas Jalan Langit.
Bisa dikatakan,
tanpa Li Yu saat itu,
takkan ada Lin Fan hari ini.
Hanya saja...
mengapa dia ada di sini?