Bab 40 Apakah Tuan Ji Memiliki Mantan Kekasih?
Halaman (1/3)
Pagi di bulan Desember diselimuti kabut tipis. Udara kering dan dingin menusuk. Jika menengadah ke kejauhan, cahaya fajar yang terang tampak di salah satu sudut langit, membuat seluruh cakrawala seolah meledak dalam cahaya.
Hari itu kembali cerah dengan matahari yang menggantung tinggi. Cuaca selama sepekan ke depan diperkirakan akan sangat baik dan menyenangkan, hanya saja semakin dingin. Selain itu, tak ada masalah lain.
Tang Junyao menyingkap selimut, lalu membuka lemari pakaian dan memilih jaket bulu angsa putih yang tipis.
Setelah selesai mencuci muka dan mengenakan pakaian, ia menuruni tangga. Pandangannya segera tertuju pada sofa di ruang tamu.
Tak ada siapa-siapa. Apakah dia sudah pergi?
Selama beberapa hari terakhir, setiap kali bangun, ia selalu melihat Ji Hancheng duduk santai di sofa.
Manusia memang makhluk tingkat tinggi yang mudah terpengaruh. Baru beberapa hari hidup bersama, ia sudah mulai terbiasa mencari sosok pria itu di rumah.
Bagi dirinya yang sensitif, ini bukan pertanda baik!
Saat menyalakan mesin dan melaju di jalan, ia baru menyadari kesalahannya. Seharusnya ia mengenakan jaket bulu angsa yang lebih tebal.
Angin dingin menggigit menyusup ke kulitnya yang tak terlindungi.
Di sofa kantor pusat Grup Ji, tubuh tinggi pria itu meringkuk. Selimut tipis menutupi tubuhnya, sementara salah satu sudutnya jatuh ke lantai. Keningnya sedikit berkerut.
Sekitar pukul tujuh lewat empat puluh menit, sekretarisnya seperti biasa masuk untuk merapikan kantor. Ketika melihat sosok tinggi terbaring di sofa, ia sempat mengira dirinya salah lihat. Ia pun mendekat dan mengamati dengan saksama.
Pria itu mendengar suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai. Meski orang yang datang telah merendahkan langkahnya, ia tetap mendengarnya dengan jelas. Sambil memejamkan mata, ia membuka bibir dan berkata, “Buatkan aku secangkir kopi.”
Semalam ia berguling-guling tanpa bisa tidur. Dua malam sebelumnya, ia tidur sangat nyenyak sambil memeluk sesuatu yang lembut. Baru satu malam, ia sudah sedikit kecanduan, dan akibatnya malah tak bisa tidur.
Karena itu, ia memutuskan datang ke kantor sejak dini hari untuk tidur sebentar.
“Baik, Tuan Ji.”
Sekretaris itu perlahan meninggalkan ruangan.
Ketika ia kembali ke bagian sekretariat, sekretaris lain melihat wajahnya yang tampak penuh pikiran dan bertanya, “Ada apa? Pagi-pagi begini wajahmu tampak muram. Sebentar lagi Tuan Ji datang.”
Sekretaris itu menunjuk ke arah kantor di dalam, lalu merendahkan suara. “Sepertinya Tuan Ji tidur di kantor tadi malam. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat masuk tadi, aku hampir mati kaget.”
“Ah, masa? Tadi malam juga tidak ada lembur. Bukankah setelah rapat sekitar pukul sembilan seluruh perusahaan sudah pulang? Kenapa Tuan Ji malah lembur sendirian?”
“Benar-benar. Ternyata uang bos juga tidak datang begitu saja dari langit.”
“Sudahlah, aku harus membuatkan kopi. Menurutku Tuan Ji kita terlalu menderita dan membutuhkan seorang istri.”
“Berhentilah bermimpi. Dengan kondisi dan status Tuan Ji seperti itu, siapa yang kira-kira bisa menarik perhatiannya? Auranya terlalu kuat. Kudengar dari temanku, Tuan Ji kita pernah memiliki mantan kekasih.”
Sekretaris yang sedang membuat kopi membulatkan matanya. “Kau dengar dari siapa? Jangan sembarangan bicara. Aku tak pernah melihat ada wanita di sisi Tuan Ji. Yang datang hanya Direktur Lu atau Direktur Han. Sampai-sampai aku curiga dia itu…”
Suara tiba-tiba menyela obrolan mereka.
“Pagi-pagi sudah tidak bekerja, malah asyik bergosip. Apa yang sedang kalian bicarakan? Bagikan juga kepadaku.”
Xu Mingkai dikenal sebagai pria yang hangat. Jika ada sekretaris yang melakukan kesalahan kecil dan masih bisa diperbaiki, ia biasanya membantu diam-diam. Namun, ia juga sangat berprinsip dan tak pernah menyentuh batas yang ditetapkan Ji Hancheng.
Karena itu, ia sangat disukai oleh para pegawai di bagian sekretariat, dan mereka pun tak terlalu waspada terhadapnya.
Sekretaris yang membawa kopi melirik pintu kantor, lalu berkata pelan, “Asisten Xu, sepertinya Tuan Ji tidur di kantor tadi malam.”
Sekretaris lainnya ikut berkata, “Asisten Xu, apakah kau tahu soal Tuan Ji yang dulu pernah punya kekasih? Ceritakan kepada kami.”
Xu Mingkai bersandar setengah badan di meja kerja mereka dan berkata dengan santai, “Apa kalian terlalu senggang belakangan ini sampai mulai bergosip tentang kehidupan asmara bos? Sebenarnya kalian mau apa? Ingin naik jabatan atau memberontak?”
Sekitar pukul tiga dini hari, ia menerima pesan dari Ji Hancheng yang memintanya untuk tidak menjemput, melainkan membawa satu set pakaian ganti ke kantor. Dari situ ia sudah tahu ada sesuatu yang terjadi, hanya saja belum mengetahui alasannya.
Kedua sekretaris itu serempak menggelengkan kepala. “Tidak, kok. Kami hanya mendengar bahwa Tuan Ji punya mantan kekasih. Kami penasaran, pria setampan dewa seperti Tuan Ji kira-kira bisa jatuh hati kepada siapa. Kami hanya ingin melihat langsung.”
Xu Mingkai tahu betul batasan Ji Hancheng. Dengan baik hati ia memperingatkan, “Siapa pun orangnya, dia tidak akan memilih kalian. Jangan membicarakan masalah ini lagi. Kalau sampai Tuan Ji mendengarnya, aku tidak akan bisa menyelamatkan kalian. Cepat kembali bekerja. Lakukan tugas kalian masing-masing.”
Melihat sekretaris yang membawa kopi hendak masuk, Xu Mingkai menghentikannya. “Berikan kepadaku. Kau sudah terlambat.”
Sekretaris itu segera tersenyum lebar. “Terima kasih, Asisten Xu.”
Ketika Xu Mingkai membuka pintu kantor direktur utama, Ji Hancheng sudah bangun dan selesai mencuci muka. Ia berdiri di hadapan jendela besar dari lantai hingga langit-langit, memandang kendaraan yang berlalu-lalang di bawah. Dari sudut ini, tampak orang-orang dari berbagai kalangan berangkat bekerja pada pagi hari.
Sebagai seorang pria, Xu Mingkai pun harus mengakui bahwa Ji Hancheng saat itu benar-benar sangat tampan.
Tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri lurus di hadapan jendela. Dua kancing kerahnya terbuka, memperlihatkan lehernya yang putih dingin. Penampilannya tampak menggoda sekaligus liar. Kancing mansetnya juga terbuka, lengan kemejanya tersingsing hingga pergelangan tangan, sementara kedua tangannya terselip di saku. Wibawanya begitu agung hingga membuat orang sulit mendekat.
Setelah terpaku selama beberapa detik, Xu Mingkai meletakkan kopi di atas meja kerja. “Kenapa semalam tidur di sofa?”
Ji Hancheng berbalik dan melirik dingin selimut di atas sofa. Ia sama sekali tak berniat menjawab. Ia mengangkat cangkir kopi, menyesapnya, lalu bertanya, “Di mana pakaianku?”
Xu Mingkai mengambil tas di dekat kakinya dan meletakkannya di atas meja. “Semuanya ada di sini. Satu set lengkap.”
Xu Mingkai berpikir dalam hati, “Kenapa Tuan Muda Ji terlihat seperti pria yang belum terpuaskan?”
---
Halaman (2/3)
Tang Junting sedang dalam suasana hati yang luar biasa baik. Baru kembali ke ibu kota kemarin malam, ia langsung menghabiskan malam penuh gairah bersama Ji Mingyuan.
Setelah melihat tanda merah itu, Ji Mingyuan memperlakukannya dengan lebih baik. Barangkali tak ada pria kaya generasi kedua yang tidak merasa senang melihat bukti semacam itu.
Sebagian bahkan memiliki kegemaran khusus dan sangat menyukai wanita yang masih murni. Bukankah Ji Mingyuan telah memberinya sebuah kartu dan membiarkannya berbelanja sesuka hati?
Pagi-pagi sekali, ia sudah membawa Chen Lan berkeliling pusat perbelanjaan di Gedung Ibu Kota.
“Ibu, apa pun yang Ibu suka akan kubelikan. Belakangan ini perusahaan Ayah sedang tidak baik, jadi Ibu bahkan belum membeli hadiah yang benar-benar disukai.”
Karena keadaan yang disebabkan oleh Tang Xin, setelah pengeluaran keluarga dipangkas setengah, kehidupan kedua ibu dan anak itu jauh lebih terkekang dibandingkan sebelumnya. Mereka tak lagi bisa menghamburkan uang, takut sedikit saja membuat Tang Xin tidak senang dan memicu amarahnya.
Akhir-akhir ini, Tang Xin mudah sekali marah. Setiap kali mengalami hal yang tidak menyenangkan di perusahaan, ia selalu melampiaskannya kepada para pelayan di rumah. Untungnya Chen Lan cukup pandai menghadapinya; kalau tidak, ia pun akan ikut menjadi korban.
Chen Lan tersenyum hingga kerutan halus di dahinya pun tampak dipenuhi kegembiraan. “Hanya kau yang memikirkan Ibu, Junting. Entah apakah perusahaan Ayahmu masih bisa bangkit. Kerugian yang dideritanya terakhir kali terlalu besar. Dengarkan Ibu, belakangan ini kau harus lebih menahan diri di rumah. Selain itu, kau harus berpegang erat pada Ji Mingyuan. Hanya dengan begitu kau bisa berdiri sejajar dengan gadis sialan itu.”
Saat menyebut Tang Junyao, wajahnya berubah ganas. Ia berkata dengan penuh kebencian, “Ibu, jangan khawatir. Aku pasti akan melakukannya. Lihat saja, bukankah kartu ini adalah bukti bahwa Tuan Muda Kedua Ji puas denganku? Kalau bukan karena perempuan hina itu yang menguasai seluruh warisan, kami tidak akan sampai kekurangan uang.”
Semakin dipikirkan, semakin marah ia dibuatnya. Namun, begitu teringat kartu yang berada di tangannya, suasana hatinya kembali cerah.
Ia menggoyangkan kartu bank di tangannya dengan gembira.
Chen Lan yang penuh perhitungan masih belum merasa tenang. “Junting, nanti Ibu akan mengajarkan sebuah cara agar kau bisa memegang erat Tuan Muda Kedua Ji.”
Setelah berpikir sejenak, ia kembali berkata, “Bagaimana hubunganmu dengan Nona Lu Man? Apakah kau sudah memberitahunya bahwa Tuan Ji telah menikah? Dengarkan Ibu, kau harus memberitahunya sebelum pesta awal bulan.”
“Kenapa harus sebelum pesta?”
Chen Lan menoleh ke sekeliling. Kemudian ia membisikkan beberapa kalimat ke telinga putrinya.
Mata Tang Junting langsung berbinar.
Dengan gembira, ia merangkul leher Chen Lan dan menciumi pipinya berkali-kali. “Ibu memang sangat pintar! Dengan begitu, aku sama sekali tidak akan terseret. Bahkan jika Tuan Ji mengetahuinya, itu juga tidak ada hubungannya denganku. Ibu, aku mencintaimu. Muah!”
Chen Lan berpikir, jika dirinya tidak cerdas, bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan kedudukan sebagai Nyonya Tang selama bertahun-tahun? Bagaimana mungkin Tang Xin rela dipaksa memutuskan hubungan dengan ayahnya demi menikahinya dan membawanya masuk ke rumah keluarga?
Bukankah semua itu berkat kelihaian dan caranya mengatur langkah?
Jika seorang wanita tidak merencanakan masa depannya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa menjalani kehidupan yang nyaman? Hanya saja, Tang Xin tidak mampu melihat hal-hal yang sebenarnya. Lelaki tua itu justru memahaminya dengan sangat jelas, sampai-sampai menjelang kematiannya pun ia tetap menolak membiarkan Chen Lan menginjakkan kaki di kediaman keluarga.
Halaman (3/3)